Pencapaian IPM Barut Naik Level

Print Friendly and PDF
MUARA TEWEH – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka panjang. 
Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia, terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan dan status pencapaian.
IPM juga merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas manusia (masyarakat/penduduk). IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. 
Bupati Barito Utara (Barut), H Nadalsyah, Senin (2/3/2020) mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama dalam “Kerja Keras, Kerja Ikhlas dan Kerja Tuntas” sehingga capaian IPM Barito Utara meningkat dari 65,12 pada tahun 2013 menjadi 70,52 pada tahun 2019. 
“Status IPM kita dari yang berstatus Sedang kini naik menjadi berstatus Tinggi pada tahun 2019,” jelas Nadalsyah. 
Meningkatnya capaian IPM ini, didasarkan pada komitmen Pemkab Barut yang terus memacu peningkatan pembangunan manusia. Berbagai upaya dilakukan, di antaranya pemerintah perlu memacu laju pertumbuhan indeks kesehatan, indeks pengetahuan dan indeks standar hidup layak untuk meningkatkan laju pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Kedua, lanjut Nadalsyah, upaya peningkatan laju pertumbuhan indeks kesehatan dengan perbaikan derajat kesehatan masyarakat, di mana meningkatnya Angka Harapan Hidup yang menunjukkan tingkat kematian yang dilihat dari sisi harapan hidupnya.
“Kita telah berupaya dengan pembangunan rumah sakit yang telah diresmikan penggunaannya pada awal tahun 2018, peningkatan status puskesmas menjadi puskesmas rawat inap, mengaktifkan posyandu dengan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan serta kegiatan-kegiatan lainnya," papar Nadalsyah. 
Ketiga, sambungnya, upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan baik dari segi ketersediaan fasilitas pendidikan, kualitas tenaga guru maupun keterjangkauan biaya pendidikan.
"Terakhir adalah infrastruktur jalan yang secara masif dilaksanakan pembangunannya. Dengan infrastruktur yang baik, dapat mendukung peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan dan taraf ekonomi masyarakat," sebutnya.
Pemkab Barut masih dan terus berupaya agar kualitas jalan bisa terus ditingkatkan demi keterjangkauan kepada fasilitas kesehatan, pendidikan dan pemerataan perekonomian di wilayah Barito Utara yang lebih mantap.
Sementara itu, Kepala BPS Barito Utara, Ahmad Nasrullah menjelaskan, IPM diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990 dan metode penghitungan direvisi pada tahun 2010. 
“Badan Pusat Statistik mengadopsi perubahan metodologi penghitungan IPM yang baru pada tahun 2014,” kata Ahmad. 
IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH), pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah. 
“Sedangakan standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita disesuaikan, yang ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli,” jelasnya.
IPM dihitung berdasarkan rata-rata geometrik indeks kesehatan, indeks pengetahuan, dan indeks pengeluaran. Pengelompokan level IPM terdiri dari “sangat tinggi” (IPM ≥ 80), level “tinggi” (70 ≤ IPM < 80), level “sedang” (60 ≤ IPM < 70) dan level “rendah” (IPM < 60). “Untuk Kabupaten Barito Utara, saat ini IPM berada pada level tinggi. 
"Dengan komitmen Bupati Barito Utara yang terus giat dalam membangun, semoga kedepannya IPM dapat mencapai level sangat tinggi,” tutupnya.[ruhui/adv]

loading...
TAG