Kalteng Tingkatkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Print Friendly and PDF
PALANGKA RAYA - Berbasis inklusi sosial, perpustakaan memperkuat perannya dalam meningkatkan literasi masyarakat. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan upaya meningkatkan akses kepada masyarakat agar mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Salah satu indikator kemajuan suatu daerah pun dapat dilihat dari banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.  
Terkait itu, Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sejak tahun 2015 melakukan program pengembangan perpustakaan yang berbasis inklusi sosial yang melibatkan masyarakat umum untuk terus menumbuhkembangan minat baca.  
Kepala Dispursip Kalteng, Dra Susana Ria Aden, Senin (2/3/2020) menuturkan, bidang pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial melibatkan masyarakat umum, pelajar, baik itu di tingkat SD, SMP, SMA, maupun Mahasiswa dengan buku-buku yang ada di perpustakaan.   
Sehingga, lanjutnya, ilmu yang didapatkan melalui buku-buku yang di baca dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Salah satu contoh, yang bisa diambil dalam penerapan kehidupan sehari-hari adalah bagaimana seseorang yang berkeinginan berkebun, namun tidak memiliki keahlian yang terampil dalam berkebun. 
"Jadi melalui buku kita bisa belajar tentang tahapan maupun tata cara bercocok tanam atau berkebun," ungkapnya.  
Ia menambahkan, di tahun 2019 lalu pihaknya telah meluncurkan program untuk meningkatkan minat baca dan meningkatkan status sosial masyarakat umum dengan memberikan penghargaan sebagai apresiasi kepada masyarakat maupun pelajar yang antusias mengunjungi perpustakaan.  
"Kami berharap anak-anak dapat mengenal perpustakaan sejak dini untuk meningkatkan SDM, walaupun ini bukan program wajib belajar atau pendidikan dasar tapi ini program pendukung untuk meningkatkan SDM serta meningkatkan ilmu pengetahuan," tuturnya.
Ditambahkannya, Dispursip juga melakukan layanan Story Telling alias bercerita. Kegiatan ini bertujuan guna membentuk karakter anak-anak bangsa menjadi karakter yang berpribadi tinggi dan cinta perpustakaan melalui dongeng-dongeng yang dikemas secara menarik dan disampaikan oleh pustakawan-pustakawan yang telah berpengalaman dalam hal itu.[kenedy]
loading...
TAG