Jelang Nyepi, Warga Bali di Palangka Raya Rakit Ogoh-ogoh

Print Friendly and PDF
PALANGKA RAYA - Warga keturunan Bali di Kota Palangka Raya dua pekan lagi akan merayakan Hari Raya Nyepi, tepatnya pada 25 Maret 2020.
Menjelang Hari Raya Nyepi ini, warga Bali biasanya beramai-ramai merakit boneka raksasa atau yang dikenal dengan nama Ogoh-ogoh.
Pada umumnya Ogoh-ogoh terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa untuk membentuk sebuah patung, baik berupa tokoh pewayangan atau tema lainnya.
Khusus kali ini, tema Dewi Durga Maiya dan Candro Berag alias anjing kurus.
Seniman patung Ogoh-ogoh di Kota Palangka Raya, Made Widana alias Yoga Penjor mengatakan, Ogoh-ogoh dibuat dengan bahan bambu atau kayu dan juga koran bekas, kawat alumunium, besi batangan untuk kerangka.
Kemudian, sedikit styrofoam yang dibentuk untuk bagian dada, kaki dan wajah. Di akhir nanti juga digunakan serbuk gergaji, agar terlihat seperti bulu dan cat untuk pewarnaan, serta mesin penggerak elektrik di kepala.
"Pembuatan ini sudah hampir lebih 50 persen dan diharapkan seminggu sebelum hari raya sudah selesai 100 persen. Semua pekerjaan ini dibantu seniman yang tergabung dalam Komunitas Seni Darma Bakti di Jalan G. Obos VIIIb Kota Palangka Raya," ungkapnya Selasa (3/3/2020).
Diuraikannya, dana untuk pembuatan Ogoh-ogoh tersebut dari swadana anggota komunitas Seni Darma Bakti, dan selama ini berjalan lancar karena semua dikerjakan gotong-royong.
Sementara itu, salah satu sesepuh masyarakat Bali di Kota Palangka Raya, I Nyoman Surasana (61) menyampaikan, makna patung Ogoh-ogoh Durga Maiya ini menggambarkan sebagai Dewi yang turun ke dunia melihat keadaan perilaku manusia, mengambil wujud Durga Maiya dan diiringi salah satu pengikut Candro Berag atau anjing kurus.
"Ketika melihat perilaku manusia yang jahat, Durga Maiya akan mengingatkan agar tidak berbuat jahat lagi," tutupnya.[kenedy]
loading...
TAG