Pasca Dilantik, Ini Gelombang yang Harus Diarungi Para Kades

Print Friendly and PDF

DALAM minggu ini momen sangat berharga bagi semua Kepala Desa (Kades) terpilih di Barito Selatan (Barsel) terpantau pada hari Senin 25 November 2019 pelantikan Kades di Kecamatan Dusun Selatan dan Gunung Bintang Awai.
Selanjutnya pelantikan Kades di Kecamatan Dusun Utara, Jenamas, Dusun Hilir dan Karau Kuala, momen pelantikan dan pengambilan sumpah dan janji jabatan Kades terpilih. 
Euphoria dan riak-riak kebahagiaan terpancar jelas dari wajah-wajah kades terpilih beserta istri dan keluarga besarnya, wajar saja siapa yang tidak bahagia ketika mendapatkan sebuah kekuasaan dan jabatan menjadi pucuk pimpinan tertinggi, walaupun hanya pada tingkat desa. 
Namun, dipilih dan diproses melalui jalur yang legitimasi dan konstitusional, yakni jalur demokrasi melalui pemilihan langsung oleh rakyat.
Kendati kebahagiaan dan pesta kemenangan sah dan perlu saja dirayakan, beranda galeri dipenuhi dengan foto-foto selfie, beranda sosial media diisi dengan status-status dan postingan kebahagiaan.
Hal yang demikian jangan sampai melenakan dan menenggelamkan tanggung jawab, amanah dan janji-janji yang harus dipenuhi kepada masyarakat. Ada ribuan harapan yang dititpkan oleh masyarakat desa yang harus diemban dan direalisasikan oleh Kades terpilih, karena Kades terpilih lahir dari Rahim masyarakat yang memillih.
Mengutip Pepatah popular Belanda; Konsep dasar Pemipin adalah Menderita (Leiden is lijden). Kades Terpilih Harus Berlari dan Belajar Pasca dilantik ada banyak tantangan, gelombang dan jalanan terjal yang harus dihadapi dan dilalui oleh sang Kades, setidaknya ada 3 Tantangan yang harus ditaklukkan oleh Kades terpilih: 
- Pertama, harus memahami apa yang ia kerjakan, dan bagaimana ia harus bekerja. Di sini perlu tingkat pemahaman kades terhadap regulasi dasar berkaitan dengan Pemerintahan Desa mulai dari regulasi pada tingkat UU maupun pada tingkat Permendagri dan Perda. Pasal 24 UU 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan asas dalam pelaksanaan penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Pemdes) yakni, kepastian hukum, tertib penyelenggaraan pemerintahan, tertib kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi, kearifan lokal, keberagaman dan partisipatif.
- Kedua, harapan yang begitu tinggi dari masyarakat desa terhadap kepemimpinan kades dalam urusan pembangunan desa. Logikanya sederhana, ketika kewewenangan membangun desa telah diberikan oleh pusat dan didukung oleh transfer dana desa, harapan akan pembangunan desa yang berpihak pada rakyat tidak dapat ditawar lagi. 
Hal ini tentunya menjadi tantangan sekaligus beban tersendiri bagi Kades terpilih. Tantangan karena harus bisa menyerap dana desa dengan baik dan tepat sasaran, beban ketika kades 
mudah terpengaruh dan tidak punya integritas, bisa jadi Dana Desa berubah jadi Dana Pribadi/Dana Keluarga.
- Ketiga, tentu saja dalam melaksanakan tugasnya kades tidak berjalan sendiri, ia dihadapkan dan dibantu oleh unsur-unsur penting yang ada di dalam kelembagaan Pemdes, unsur vital tersebut adalah aparat desa, dalam pelaksanaannya kades harus bergerak dan bekerja secara dinamis, cepat dan tepat sasaran dalam kerja kolektif. 
Dalam hal ini, Kades bukan saja menjadi pemipin tertinggi bagi masyarakatnya, tapi juga menjadi leader dalam tim internal pemerintahannya. Untuk mewujudkan visi, misi dan program kerja kades harus dibantu oleh aparat desa yang berkompeten, bersih dan juga membersihkan.
Layaknya susunan kementerian dalam kabinet, aparat desa objek vital dalam merumuskan dan merealisasikan program kerja kades. 
Jangan sampai Kades tersandera dengan kepentingan dan pengaruh aparat desa yang ingin menggerogoti kelembagaan desa dari dalam bak menggunting dalam lipatan.
Setidaknya ketiga tantangan tersebut yang dihadapi dan harus diatasi oleh Kades terpilih, sehingga tercapainya negeri yang makmur, adil dan sejahtera "Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghafur."

Penulis : Harliansyah SH
Peneliti Insitut Demokrasi dan Pemerintahan Daerah (INDEPEMDA).
loading...
TAG