Produksi Karet Terus Meningkat

Print Friendly and PDF
KARET merupakan komoditas yang dapat digunakan untuk keperluan berbagai produk dan peralatan, mulai dari produk Industri hingga rumah tangga.
Pada umumnya karet terbagi menjadi dua jenis, yakni alami dan sintetis. Karet sendiri bersifat elastis, fleksibel, liat dan kedap udara atau air. Karet diolah dari lateks atau getah kental yang ada pada pohon para.
Pohon para merupakan jenis tanaman karet yang memiliki perakaran yang ekstentif, akarnya mampu menembus tanah sampai kedalaman 2 meter. Tinggi pohon dewasanya dapat mencapai 15-25 meter.
Tanaman karet adalah tanaman yang hidup di daerah tropis. Oleh sebab itu, tanaman ini cocok untuk tumbuh di daerah Indonesia. Salah satu provinsi penghasil karet di Indonesia adalah Kalimantan Tengah.
Pada tahun 2018, Kalimantan Tengah merupakan provinsi penghasil karet terbesar kedelapan di Indonesia, dan terbesar ketiga di pulau Kalimantan, di bawah provinsi Kalimantan Barat dan provinsi Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data BPS dari publikasi (Kalimantan Tengah Dalam Angka 2019), pada tahun 2018, luas lahan perkebunan tanaman karet di Kalimantan Tengah berada pada posisi kedua setelah kelapa sawit.
Terdapat sekitar 445.315,66 hektare lahan karet di Kalimantan Tengah, dengan kabupaten yang memiliki lahan perkebunan tanaman karet terluas adalah kabupaten Gunung Mas seluas 68.372 hektar.
Artinya, sekitar dua sampai tiga persen wilayah Kalimantan Tengah merupakan lahan perkebunan karet.
Produksi karet di Kalimantan Tengah terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2017 produksi karet sebesar 166.180,8 ton dan pada tahun 2018 meningkat menjadi 166.475 ton. 
Dengan kabupaten penghasil tertinggi yaitu kabupaten Barito Utara, sebesar 34.305 ton pada 2017 dan 34.662 ton pada tahun 2018. Diprediksi produksi karet pada tahun 2019 juga akan mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Walaupun kabupaten Gunung Mas memiliki luas lahan perkebunan tanaman karet paling luas di Kalimantan Tengah, namun hasil produksi karetnya masih berada di bawah kabupaten Barito Utara.
Karet merupakan bahan utama dalam pembuatan berbagai barang, seperti ban, bola, sepatu, tas dan lain sebagainya. Dilansir dari gapkindo.org (website Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) rata-rata harga TSR (Karet Spesifikasi Teknis) 20 di bursa pasar Singapore pada tahun 2019 berada di kisaran 1,4 dollar US per kilogramnya.
Untuk harga beli karet hasil kebun petani di Kalimantan Tengah dihargai sekitar Rp6.000 sampai Rp.9000 per kilogramnya.
Dengan potensinya yang cukup besar dan permintaan yang cukup tinggi, karet dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar, terutama untuk provinsi Kalimantan Tengah.
Di samping itu, ada beberapa dampak negatif yang diberikan oleh pabrik pengolahan karet, seperti dapat mengganggu sistem pernafasan, menghasilkan limbah cair, menyebabkan wangi yang tidak sedap bagi lingkungan sekitar dan lain sebagainya.
Maka dari itu, dibutuhkan perlakuan yang tepat oleh pemerintah, perusahaan pengolah tanaman karet dan masyarakat Kalimantan Tengah, agar potensi tanaman karet di Kalimantan Tengah dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.[]
Penulis: Dwi Ari Suryawan. S
Mahasiswa: Politeknik Statistika STIS Jakarta
Asal: Kapuas, Kalimantan Tengah
loading...
TAG