Kompak..! Lima Terdakwa Tipikor Bantah Keterangan Saksi

Print Friendly and PDF
PALANGKA RAYA - Sidang lanjutan kasus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pasar Handep Hapakat di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) memasuki sidang saksi-saksi.
Sidang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim, Alfon SH MH dab dibantu dua hakim anggota di Pengadilan Tipikor, Palangka Raya, Selasa (17/9/2019).
Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pulpis menghadirkan empat saksi, di antaranya Irwansyah SHut seorang ASN DPUPR Pulpis, Rahmat
ASN Setda Pulpis, Sugianto ASN Disperindagkop serta Yohanes selaku Konsultan proyek tersebut.
Ketika saksi Sugianto memberikan keterangan di hadapan majelis hakim, JPU serta para Penasihat Hukum terdakwa, kompak para terdakwa membantah semua kesaksiannya.
"Masalah pajak saya tidak pernah menandatangani, akan tetapi kalau cek memang ada menandatanganinya," kata Maulidya Aryas, Direktur Utama PT Talawang Nampara Perkasa Pusat Tamiang Layang saat di persidangan.
Terdakwa lainnya, yakni Pejabat Pembuat Komitmen, Fitriadie juga mengaku tidak pernah meminjam uang kepada orang lain dan mengaku yang dituduhkan saksi itu tidak benar.
"Apa yang dituduhkan saksi itu tidak benar," ucapnya.
Di sisi lain, Kuasa Pengguna Anggaran, Kadis Disperindagkop Pulpis, Fauzi Tambang juga dengan tegas membantah keterangan saksi. Bahkan Ia menegaskan tidak pernah menyampaikan kepada mereka saksi yang kemarin bahwa Ferry dijadikan rekanan.
"Saat ada undangan pun saya tidak pernah memberikan instruksi untuk mereka kesana. Bahkan keberangkatannya pun beda hari dan tempat saya di Palangka Raya saksi melalui Banjarmasin, intinya semua keterangan saksi bohong," cecarnya.
Ferry Niagara, selaku pelaksana pekerjaan mengaku tidak pernah melakukan pemalsuan tanda tangan. Bahkan yang mengurus jaminan ke bank pun bukan dirinya. Tidak hanya itu saja, jaminan uang muka harus ada, dan bukannya dia yang mengurus.
"Terkait cap tidak pernah saya menitipkannya, karena itu khusus pencairan cek. Jadi itu tidak benar," bebernya.
Sementara itu dalam kesaksiannya, Sugianto menjelaskan, Fitriadie ada kesepakatan meminjam uang kepada orang lain senilai Rp10 juta dan Ferry pun ada menitipkan cap khusus cek pencairan kepadanya.
"Ferry ada menitipkan cap, sedangkan Fauzi Tambang ada merekomendasikan kepada saya untuk menghadiri undangan," tandasnya.
Diketahui bersama, kelima terdakwa ini terlibat kasus pembangunan pasar yang didanai melalui Dana Tugas Pembantuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016.
Pekerjaan itu sendiri dimulai pada 2016 lalu dan mereka terjerat, karena tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis yang bertentangan dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Mereka sudah merugikan negara sekitar Rp2,7 miliar lebih. Perbuatan para terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana.[kenedy]
loading...
TAG