Kasus Dugaan Penghinaan di Kapuas Barat Diselesaikan via Jalur Restorative Justice

Print Friendly and PDF
KUALA KAPUAS - Kasus dugaan ucapan yang mengandung penghinaan yang dilakukan MS pada salah satu warga di Kecamatan Kapuas Barat, beberapa waktu lalu kini berujung damai.
Kapolres Kapuas AKBP Tejo Yuantoro melalui Kapolsek Kapuas Barat Ipda Eko Sutrisno membenarkan perkara itu ditempuh melalui penyelesaian dalam kerangka restorative justive.
"Ya benar, pada Rabu (27/9/2019) sore dilaksanakan ritual adat pembayaran denda atau singer ini terkait perkara adanya dugaan ucapan yang mengandung penghinaan terhadap warga yang lain yang dilakukan MS," kata Kapolsek, Sabtu (28/9/2019).
Ritual tersebut dilaksanakan di rumah demang adat Kecamatan Kapuas Barat, di Jalan Tui Batur Desa Saka Mangkahai Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalteng.
Di mana kegiatan itu dihadiri oleh langsung Kapolsek Kapuas Barat, demang adat Tinus I.Yakub, mantir adat, pihak terlapor dan pelapor dan warga kedua belah pihak yang berdamai.
Dalam ritual itu juga dilakukan tapung tawar antara saudara MS dan GD dengan tujuan saling buang sial dan memaafkan satu sama lain.
Kemudian ritual tapung papas yang bertujuan semua pihak yang hadir tidak terkena sial dan jauh dari malapetaka dari kejadian yang ada.
"Kedua belah pihak juga melakukan penandatanganan surat pernyataan tertulis," imbuhnya.
Dengan disaksikan semua yang hadir, kemudian dilakukan penyerahan denda atau singer adat oleh MS kepada adat kadamangan dan saudara GD
Kegiatan ritual adat tapung tawar dan tapus papas ini dilakukan guna kebaikan kedua belah pihak yang berselisih paham karena adanya ketersinggungan.
Di samping itu juga untuk menyelesaikan dan menjalin silahtuhrahmi yang lebih baik lagi untuk semua pihak yang diakhiri dengan ritual membuang sial bagi individu dan kampung, sebagai bentuk penghormatan atas nilai-nilai luhur masyarakat Kalteng.
"Melalui penyelesaian dalam kerangka restorative justive dilandasi spirite huma betang diharapkan dapat mewujudkan kepastian dan keadilan hukum masing masing pihak secara cepat, murah dan memenuhi rasa keadilan masing-masing pihak," ucap Eko.
Ke depan, lanjutnya, akan terjalin persaudaraan yang baik untuk keduanya dan bisa menjadi pelajaran yang berharga juga bagi semua pihak sehingga mampu berpikir sebelum bertindak dan bukan bertindak sebelum berpikir.
"Sehingga bisa menghindari permasalahan yang muncul agar tidak merugikan pihak lain," imbuh Eko.
Sebagaimana ungkapan, lanjut dia, di mana bumi dipijak di situlah langit dijunjung sebagai perwujudan nilai-nilai kearifan lokal.[zulkifli]
loading...
TAG