Indahnya Masa Kecil, Nyeberang Sungai Kahayan dengan Potongan Kayu dan Teng Bekas

Print Friendly and PDF
PERNAHKAH di antara kita mengenang atau mengingat masa-masa kecil? Saya rasa pasti kita semua pernah mengenang dan mengingat masa-masa itu, meski tak semua kenangan sama.
Pada dasarnya masa kecil punya banyak kenangan indah dan menyenangkan, seperti bersenda gurau dengan sanak famili, dan bermain bersama teman-teman sebaya.
Andai saja waktu itu dapat diputar, maka semenit pun barang tentu banyak yang ingin merasakan kembali pada masa-masa itu.
Meski masing-masing di antara cerita masa kecil beragam, namun tidak merubah hakikat masa kecil adalah di mana masa yang paling indah dan menyenangkan, terlepas sebagian dari kita di masa itu ada yang pahit dan getirnya kehidupan.
Memulai goresan pena sederhana ini, penulis sedikit bercerita tentang kehidupan masa kecil di Pulang Pisau, yang saat itu masih duduk di bangku SD kelas IV, ya kira-kira berumur 10 tahunan.
Di mana saat itu juga Pulang Pisau sekitar tahun 1998 masih berstatus kecamatan bagian dari wilayah Kabupaten Kuala Kapuas.
Meski bersatus kecamatan, Pulang Pisau tempo dulu berasa bak kota besar kebanyakannya karena di wilayah pusat kecamatan terpusat pemukiman warga, mulai lokasi Pasar Patanak sampai muara Anjir Pulang Pisau, yang mana warga menyebutnya dengan sebutan Cukai.
Mulai kapal pedagang, kapal taksi sampai kapal-kapal besar, seperti tongkang dan tugboat membanjiri sepanjang DAS Kahayan di wilayah Kecamatan Pulang Pisau saat itu.
Ditambah waktu itu, banyak permainan musiman yang tidak pernah kami tinggalkan, mulai main layang-layang, petak umpat, main kelereng, berlogo dan permainan tradisional lainnya.
Mengingat masa itu tentunya membuat naluri  berasa ingin kembali ke masa-masa indah dan penuh kegembiraan itu.
Bahkan, hal yang paling menyenangkan dan sekaligus membuat adrenalin memuncak sampai ke ubun-ubun, ialah saat menyeberangi Sungai Kahayan yang cukup luas itu dengan menggunakan bekas potongan pohon atau  batang pohon yang banyak larut hampir di sepanjang DAS Kahayan (kala itu).
Bahkan tak jarang demi hasrat menyeberangi Sungai Kahayan pun kami hanya berpangku dengan sebuah jeriken alias teng bekas. Itu tentunya suatu kegembiraan tersendiri bagi kami.
Seiring berjalannya waktu, hal-hal yang membuat kegembiraan dan kesenangan mulai larut dan beransur hilang.
Dari sepenggal cerita semasa kecil saat berada di bantaran Sungai Kahayan ini akan menjadi sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan.
Seiring berjalannya waktu, di antara sejumlah kawan-kawan yang suka berenang di DAS Kahayan, sudah memasuki masa peralihan pendidikan, mulai tingkat SD memasuki ke tingkat sekolah menengah pertama atau SLTP sederajat.
Mulai terpisah dengan kawan-kawan masa kecil, kami mulai fokus dengan pendidikan ditingkat lebih tinggi, yakni tingkat SLTP/Sederajat.
Singkat cerita, usai melewati pendidikan tingkat pertama selanjutnya memasuki tingkat menengah atau SLTA/Sederajat.
Pada fase itu, semua kegiatan yang pernah dilakukan semasa kecil murni hilang bak ditelan bumi. Seluruh teman sebaya termasuk aku mulai memikirkan karir dan jalan hidup masing-masing.
Menyudahi tulisan ini, pesan yang ingin disampaikan penulis, yakni jangan pernah melupakan asyiknya masa kecil kita, karena dengan itu akan membuat kita lebih peka terhadap fase demi fase perjalanan usia masing-masing sampai memasuki masa tua, sampai kematian menjemput kita semua.
Catatan: Umur tidak memandang muda dan tuanya usia, tapi umur sudah ditentukan Sang Maha Pemberi Kehidupan, yakni Allah SWT dengan segala asbabnya.
Penulis: Abdul Manan (jurnalis di harian kabarkalteng.com
loading...
TAG