Diduga Meliput Demonstrasi Karhutla tanpa Izin, Dua WNA Diamankan

Print Friendly and PDF
PALANGKA RAYA - Misi dua Warga Negara Asing (WNA) yang diduga ingin melakukan peliputan bencana kebakaran hutan dan kabut asap di Provinsi Kalimantan Tengah, terhenti di tangan petugas imigrasi kelas 1 non TPI Palangka Raya pada Jumat 20 September 2019.
Dua WNA bernama Jakub asal Slovakia dan Isacco asal Italia diamankan di depan kantor Gubernur Kalteng saat sedang mendokumentasikan aksi demonstrasi dari beberapa pihak tentang bencana asap. Keduanya diamankan karena menyalahgunakan visa bebas kunjungan.
"Kami mengamankan karena memang izin keimigrasian dua orang tersebut bermasalah," terang Kepala Imigrasi Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Palangka Raya, Dadan Gunawan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (23/9/2019).

Mereka, lanjutnya, hanya mengantongi visa bebas kunjungan, di mana itu hanya boleh dipergunakan untuk pariwisata alias bukan untuk kegiatan lain tanpa ada izin apapun dari lembaga atau instansi yang berwenang.
"Karena memang itu kesalahan dari sisi imigrasi," tandasnya.
Usai diamankan dan dilakukan pengembangan, Jacub dan Isacco diduga merupakan film maker. Keduanya berada di Kalteng sejak akhir Agustus 2019 lalu.
"Kalau dari penelusuran dan hasil pengembangan, mereka kayanya film maker. Karena ada beberapa film dokumenter yang ditemukan," jelas Dadan.
Menurutnya, alat-alat yang mereka gunakan saat mendokumentasikan aksi demonstrasi pun sangat canggih.
"Dan itu yang kami curigai," tegasnya.
Didampingi Kasubsi Inteligen, M. Syukran, Dadan menjelaskan, pihak Imigrasi Tipe 1 Non TPI Palangka Raya tidak mempersoalan latar belakang dan tujuan kedatangan dua WNA ke Bumi Tambun Bungai jika prosedur keimigrasiannya lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Mau dia wartawan atau siapapun yang datang ke Kalteng harus ada izin keimigrasian yang jelas. Misalnya mau meliput tentang karhutla dan bencana kabut asap di sini harus ada izin dan juga koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemenkominfo, bukan hanya mengantongi visa bebas kunjungan yang secara aturannya hanya untuk berwisata," tegas Dadan.
Ia menambahkan, semuanya ini dilakukan dari sisi keimigrasian hanya demi satu kata kunci yaitu menjaga NKRI.
Sementara itu, Syukran menambahkan  dua WNA yang tidak bisa sama sekali berbahasa Indonesia tersebut sudah dideportasi ke negara asal pada Minggu 22 September 2019.
"Mereka sudah kami deportasi ke negaranya. Masing-masing menggunakan pesawat yang berbeda, karena memang beda daerah asal," ujar Syukran.[deni]
loading...
TAG