Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara, Ini Pernyataan Sikap Tokoh Dayak Kalimantan

Print Friendly and PDF
PALANGKA RAYA - Wacana Ibu Kota Pemerintahan yang digadang-gadangkan akan pindah ke Kalimantan oleh Pemerintah Pusat mendapat respon positif dari sejumlah tokoh adat Dayak.
Itu dibuktikan dengan adanya sejumlah tokoh adat Dayak se-Kalimantan, akademisi dan masyarakat menyatakan ikrar menerima pemindahan ibu kota ke pulau Kalimantan.
Pernyataan ikrar itu dibacakan tepat di Tugu Soekarno, Kota Palangka Raya, Kamis (25/7/19).
Tugu Soekarno merupakan tugu sejarah, di mana pada 17 Juli 1957 dilakukan pemancangan tiang pertama Kota Palangka Raya ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno.
Saat itu presiden pertama Indonesia tersebut menggumumkan bahwa Kalteng merupakan tempat paling strategis dibangun Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dan hasil dari seminar dan Ekspedisi Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 2019 di Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas (Gumas) masyarakat Dayak Kalimantan berikrar.
Adapun bunyi ikrar "Kami masyarakat Dayak Kalimantan mendukung pemindahan ibukota negara kesatuan Republik Indonesia ke pulau Kalimantan demikian hal ini kami sampaikan agar diketahui dan ditindaklanjuti oleh pemerintah pusat sebagaimana mestinya".
Kehadiran tokoh-tokoh adat Dayak dalam menyatakan sikap ini baik itu dari Kalimantan Timur, Utara, Selatan dan Barat, Sarawak, Sabah dan Brunei ini seusai mengikuti acara Napak Tilas Perjanjian Damai Tumbang Anoi, 1894 di Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas beberapa hari lalu.
Pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) Kalteng, Dagut Junas mengatakan, kegiatan hari ini adalah sebagai hasil dari tindak lanjut dari seminar internasional dan napak tilas dari tumbang anoi dan salah satu poin kuncinya adalah setuju untuk pemindahan ibu kota di Kalimantan.
"Kita deklarasikan di sini karena dulu Presiden Soekarno pada saat pemancangan tiang pertama pernah mengumumkan bahwa Kalimantan Tengah menjadi tempat strategis sebagai ibu kota Negara Republik Indonesia dan nanti juga akan kita sampaikan ke pemerintah pusat bahwa kita siap menerima pemindahan ibu kota," tegasnya.
Sementara itu, salah satu tokoh dan salah satu pendiri Kalteng, Sabran Achmad menuturkan, kegiatan itu dihadiri oleh seluruh perwakilan di Kalimantan.
"Kita berharap dan mudah-mudahan Pemerintah menempatkan dan agar Kalimantan dipilih sebagai ibu kota Negara. Hingga saat ini kita belum tahu bagaimana wajah Republik Indonesia, Istana Negara di Jakarta dan di Jogjakarta itu buatan Belanda, jadi wajah Republik Indonesia itu belum ada," bebernya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Harian DAD Kalteng, Andrie Elia Embang menegaskan, yang penting kelembagaan ini mampu menerima aspirasi dan mengayomi masyarakat dan berkoordinasi serta besinergi dengan pemerintah dan seluruh lembaga yang ada.
"Diharapkan warga Dayak adalah bagian dari NKRI, makanya pembangunan masyarakat Dayak di lokasi ibu kota baru harus diperperdayakan dan diperhatikan mulai dari tingkat pendidikan, kesehatan ekonomi dan semua aspek pembangunan. Jangan seperti warga Betawi yang kurang diperhatikan," tandasnya.[kenedy]
loading...
TAG