Kasus Tikipor Pasar Patanak bakal Seret Dua Pelaku...?

Print Friendly and PDF
PULANG PISAU - Penanganan kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) proyek pembangunan Pasar Handep Hapakat Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) atau yang lebih dikenal Pasar Patanak memasuki babak baru.
Saat ini penyidik Satreskrim Polres Pulang Pisau  tengah melakukan penyidikan tahap pertama kepada dua tersangka baru dalam kasus tersebut, yakni mantan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan Koprasi dan UKM (Kadisperindagkop) Kabupaten Pulang Pisau berinisial (FT) selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan komisaris utama PT Talawang Nampara Perkasa (Y).
"Sebelumnya, ada tiga tersangka yang sudah kami limpahkan, yakni FN, MA, dan FI. Saat ini juga kami masih melakukan penyelidikan kepada dua tersangka lainnya, yakni FT dan Y," kata Kapolres Pulpis AKBP Siswo Yuwono BPM kepada awak media.
Siswo mengungkapkan, penyimpangan proyek dilakukan pada tahun anggaran (TA) 2016, dengan nilai kontrak Rp4,8 miliar lebih. Setelah dialkukan diaudit oleh BPK-RI, total kerugian dari  proyek Pasar Patanak ini mencapai Rp2.733.947.552,97.
Berdasarkan aliran dana yang dibeberkan, tersangka FN beberapa kali memberikan uang kepada tersangka lainnnya.
"Berdasarkan keterangan FN, FT beberapa kali meminta uang ke FN dengan beberapa alasan. Berdasarkan itu kita melakukan penyelidikan kepada tersangka," katanya.
Bermula dalam kasus ini, terdapat kesalahan pada kontruksi bangunan pasar Patanak seperti struktur atap, baik terkait besi maupun bangunannya, karena dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi atau spek yang telah ditetapkan.
Melihat ada indikasi itu, maka dilakukanlah pemeriksaan hasil pengerjaan melibatkan ahli dari Asosiasi Tenaga Ahli Pemborong Indonesia. Berdasarkan pengujian terhadap volume pekerjaan, akhirnya diketahui bahwa terdapat pengerjaan yang tidak sesuai dengan volume sebagaimana tercantum dalam kontrak, yakni pada pembesian, beton, bekisting, dan pengerjaan taman.
Pemeriksaan atas hasil pengerjaan proyek juga dilakukan oleh ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdasarkan hasil uji laboratorium dan keterangan ahli ITB, bangunan blok A memiliki risiko kegagalan struktur, akibat kurangnya kapasitas struktur ring balk (balok ring).
"Jika terjadi kegagalan struktur ring balk, maka struktur atau beban yang dipikul ring balk akan ikut runtuh. Itu sangat membahayakan bagi pengguna bangunan," tegas Siswo.
Lebih lanjut dikatakannya, blok C juga memiliki kegagalan struktur yang besar, akibat adanya pemutusan tulangan pada tulangan atas struktur ring balk.
"Keruntuhan blok C dapat diprediksi ketika ada beban gravitasi bekerja pada ring balk tersebut. Beban gravitasi bisa berupa orang (manusia) atau barang yang tepat berada pada bentang ring balk tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dalam kasus ini penyidik menyita barang bukti berupa sejumlah dokumen, laptop, mobil Honda HRV, dan uang tunai Rp123 juta.
Tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor yang telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor yang telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (91) ke-1 KUHP.
“Merujuk pada pasal 2, maka ancaman hukuman paling singkat empat tahun penjara. Sementara pada pasal 3, ancaman hukuman paling singkat satu tahun penjara,” tegasnya seraya menambahkan pihaknya akan segera menyelesaikan penyidikan untuk dua tersangka lainnya, yakni FT dan Y.[manan]
loading...
TAG