Sekolah Lapang Petani Gambut Desa Anjir Kelampan, Inovasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Print Friendly and PDF
KUALA KAPUAS - Penyiapan lahan tanpa membakar menjadi terobosan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal tersebut menjadi inovasi yang diterapkan Sekolah Lapang Petani Gambut di Desa Anjir Kelampan, Kecamatan Kapuas Barat.
Sekolah Lapang Kelompok Tani (Poktan) KLP Jaya, Desa Anjir Kalampan, Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas. Mewadahi siapa saja yang mau belajar ilmu pertanian.
Langsung praktik lapangan dan diberi pembekalan teori yang terarah. Ini guna mendukung proses pembelajaran ilmu dasar pertanian.
Menarik, karena Sekolah Lapang Poktan KLP Jaya ini mengusung pembelajaran yang dikhususkan kepada sisitem pengolahan lahan tanpa bakar.
Menjadi solusi juga dan sebagai bentuk dukungan pencegahan pembakaran hutan dan lahan yang digaungkan pemerintah.
Sekolah Lapang ini merupakan terobosan kreatif dan inovatif dari Kepala Desa (Kades) Anjir Kalampan, Yanir.
Buah pemikiran itu lahir dari keinginan mencetak para petani handal dan berdaya saing serta kompetitif. Baik dari segi pengelolaan, hasil panen dan pemasaran.
"Saat ini di Sekolah Lapang Poktan KLP Jaya ada 17 siswa dari SMK 3 Kapuas yang praktek lapangan atau magang. Mereka akan magang selama dua bulan," kata Kades Anjir Kalampan.
Sebelumnya, lanjut Kades, ada Kelompok Tani binaan BRG Kotawaringin Timur yang juga menimba ilmu di Sekolah Lapang Poktan KLP Jaya.
"Mereka juga belajar pertanian baik teori maupun praktek, khususnya belajar tani  jenis sayuran," jelasnya.
Dijelaskannya, pelajaran yang didapat dari Sekolah Lapang Poktan KLP Jaya hampir komplet.
Mulai awal membuka lahan tanpa dibakar, pengolahan lahan, hand traktor, aplikasi, dan penggunaan serta pemanfaatan pupuk kandang serta hal terkait lainnya.
"Diajari sampai sampai mengerti, malah direncanakan sampai pemasaran nantinya," ungkapnya.
Pembelajaran disampaikan langsung Kades Anjir Kalampan. Selain itu materi praktek diberikan juga oleh PPH dari Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas, Suhardiyono yang tak lain pendamping pertanian di desa tersebut.
"80 persen memang praktek untuk lebih memahami dan efektifitas dalam penyerapan pembelajaran ilmu tani," ungkapnya.
Masih menurutnya, di era milenial seperti sekarang ini, jadi petani itu prospeknya bagus.
"Jadi untuk anak-anak lulusan sekolah pertanian, jangan mikir jadi PNS dulu, jadi petani juga punya prospek bagus," pungkas Yanir.[zulkifli]
loading...
TAG