Diduga Lakukan Pencabulan, Pelatih Tari Ini Dipolisikan

Print Friendly and PDF
KUALA KAPUAS - Kasus dugaan pencabulan kembali terjadi di Kabupaten Kapuas. Korbannya merupakan dua anak yang masih berusia di bawah umur, yang sedang belajar menari kuda lumping. Sementara terlapor berinisial HU (55), warga Desa Tambun Raya, Kecamatan Basarang.
Kasus ini kini tengah ditangani oleh Kepolisian Sektor Basarang, Polres Kapuas. Kapolres Kapuas AKBP Tejo Yuantoro, melalui Kapolsek Basarang Iptu Supriadi mengatakan, tengah menangani kasus pencabulan di wilayah hukum Polsek Basarang.
Ia menjelaskan, hal itu sesuai dengan nomor admimistrasi yang telah dilaporkan ke Polsek Basarang, dengan laporan polisi nomor LP/01/II/RES 1.4/2019/Kalteng/Res Kps/Sek Basarang, 11 Februari 2019 tentang tindak pidana pencabulan terhadap anak di bawah umur.
Laporan polisi dari korban tersebut disampaikan oleh orangtua, atas perbuatan terlapor.
"Modusnya adalah korban I dibujuk rayu oleh terlapor digunakan seperti ritual agar memiliki suara bagus dan akan banyak dapat saweran saat tampil, terlapor G ini adalah ketua kelompok seni tari dan kuda lumping di Basarang," kata Kapolsek Basarang, Iptu Supriadi, Selasa, (13/2/2019) saat menyampaikan pers rilis kepada sejumlah wartawan.
Korban diajak ke kamar mandi. Berdasar pengakuan korban, korban dicium kemudian dipaksa mengisap kemaluan terlapor.
Sementara korban lainnya modus yang dilakukan hampir sama, namun korban S ini menolak permintaan terlapor.
"Kejadian itu pada tahun 2017, namun baru dilaporkan pada saat ini, karena kondisi korban takut dan malu," terang Kapolsek.
Peristiwa itu lanjut Kapolsek baru diketahui adanya omongan antara I dan A (saksi), ibu korban yang mendengar pembicaraan itu curiga. Setelah didesak oleh ibunya korban akhirnya mau mengakui adanya kejadian tersebut.
"Terlapor langsung diamankan untuk penyidikan lebih lanjut," kata Kapolsek.
Adapun pasal yang disangkakan terhadap terlapor dugaan pencabulan ini pasal 82 ayat 1 Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua Undang-undang Perlindungan anak, dengan ancaman minimal 5 tahun, maksial 15 tahun kurungan.[zulkifli]
loading...
TAG