Menang Praperadilan, Ini yang akan Dilakukan Sutrisno Selanjutnya..!

Print Friendly and PDF


BUNTOK - Sutrisno diputuskan memenangkan praperadilan atas gugatannya terhadap Kejaksaan Negeri (Kejari) Barito Selatan, Rabu (9/1/2019). Kemudian apa yang direncanakan olehnya terkait kasus suap paket proyek multiyears di Barsel ini selanjutnya?.

Meskipun dimundurkan dari jadwal, yakni Selasa (8/1/2019), persidangan kelima praperadilan pemohon Sutrisno, tersangka pemberi suap paket proyek multiyears terhadap oknum Wakil Ketua I DPRD Barsel, H Hasanuddin Agani, di Pengadilan Negeri (PN) Buntok, Rabu (9/1/2019), dengan agenda pembacaan putusan, menuai hasil yang mengejutkan.

Hakim tunggal, Agustinus SH memutuskan mengabulkan permohonan praperadilan dari Sutrisno. Dengan adanya keputusan ini, status tersangka yang disandang oleh Direktur PT. Tirta Dhea Addonnics Pratama (TDAP) tersebut pun, gugur demi hukum.

Dalam pembacaannya di hadapan Jaksa, Kasi Pidum Kejari Barsel, Rahmat Baihaki SH MH, Suryaningsih SH dan Agung Cap Prawarmianto SH, serta Kuasa Hukum tersangka Aris Arpandi Lubis SH, Hakim Agustinus menyebutkan, ada beberapa pertimbangan sehingga permohonan praperadilan diterima.

Di,antaranya, bahwa dasar penyelidikan, penyidikan dan penetapan tersangka Sutrisno harus gugur demi hukum. Pasalnya, seperti diutarakan Jaksa dalam jawaban dan dupliknya, bahwa penyelidikan terhadap kasus yang menjerat pria yang berdomisili di Jakarta tersebut, berdasarkan laporan dari masyarakat tertanggal 26 Juni 2018, yang mengatakan bahwa PT. TDAP adalah pemenang tender dari salah satu proyek yang menelan biaya APBD hingga Rp300 miliar tersebut.

Sedangkan, pada kenyataannya PT. TDAP tidak ada satupun memenangkan tender proyek di Kabupaten bersemboyan Dahani Dahanai Tuntung Tulus tersebut.

Selain itu, dalam jawaban dan duplik yang disampaikan oleh termohon, dikatakan bahwa alat bukti yang cukup juga diperoleh pihak pemohon berdasarkan pemberitaan di salah satu media online, yang mana di dalam pernyataan pemohon melalui repliknya, dikatakan bahwa pihaknya tidak pernah mengajukan laporan Polisi dan memberikan pernyataan kepada media manapun, terkait permasalahan bukti kuitansi yang dijadikan alat bukti oleh pihak Kejari Barsel itu, yang mana pemohon menganggap berita tersebut adalah bohong (hoaks) dan tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti.

Ditemui seusai persidangan, Aris mengakui bahwa pihaknya benar-benar tidak pernah melakukan pelaporan kepada Polisi dan mempublikasikan kasus tersebut kepada media manapun, dan dalam pengakuannya lebih lanjut, Aris juga mengatakan sudah melakukan klarifikasi kepada pihak Dewan Pers (DP), diperoleh informasi bahwa media online yang memberitakan menyangkut masalah kuitansi tersebut, diketahui bahwa media bersangkutan tidak terdaftar di DP.

"Kami tidak pernah melakukan pelaporan kepada polisi maupun memberikan pernyataan lewat media terkait masalah ini (kuitansi), dan sudah kita tanyakan sama DP, media yang memberitakan itu tidak terdaftar di DP," sebutnya.

Sementara itu, ketika ditanyakan oleh awak media perihal darimana pihak media online yang dimaksudkan mendapatkan data-data pemberitaan bahkan foto asli dari kuitansi, Aris meyakinkan bahwa dirinya tidak tahu.

"Kalau untuk itu, saya tidak tahu ya, coba tanya saja langsung kepada mereka," kilahnya.

Terkait masalah kuitansi sendiri, Aris mengakui bahwa sejumlah uang tersebut merupakan diserahkan kepada Hasanuddin sebagai biaya pembangunan kantor perwakilan perusahaan PT.TDAP di Buntok.

Hal tersebut, dikatakan oleh Aris lebih lanjut, merupakan dikarenakan kepercayaan pihaknya terhadap Hasanuddin, meskipun tidak mengetahui pasti apa sebenarnya posisi dan kewenangan yang bersangkutan di Kabupaten Barsel.

"Prinsipnya, bisnis itu trust (percaya), makanya ketika kami mendengar ada yang bisa menerima investasi kami, ya kami serahkanlah uang itu. Antara klien saya (Sutrisno) dengan Hasanuddin, memang sudah kenal lama, karena kami memang perusahaan yang sering melaksanakan pekerjaan di Palangka Raya. Kami tidak pernah tahu apa jabatan dan kewenangan Hasanuddin di Palangka Raya," akuinya.

Dinyatakan menang praperadilan, status tersangka Sutrisno gugur demi hukum. Pada saat ditemui oleh awak media di Rutan Kelas II Buntok, Sutrisno yang tengah bersiap-siap keluar dari Rutan, Rabu (9/1/2019), pria asal Solo ini pun bersedia memberikan waktu kepada media untuk memberikan komentarnya.

Sutrisno menyatakan kepuasannya kepada hasil keputusan persidangan, dan untuk ke depannya ia berencana berkonsultasi hukum untuk melakukan penggugatan guna meminta ganti rugi atas kejadian yang menimpanya.

"Pertama saya nyatakan terima kasih kepada pihak PN Buntok, karena telah memberikan keadilan bagi saya. Ke depannya mungkin saya akan berkonsultasi hukum dengan PH saya, untuk melakukan gugatan dan meminta ganti rugi atas kejadian ini. Tapi meskipun begitu, ini pengalaman indah buat saya, merasakan berada di dalam sel Rutan, semoga ini bisa menjadikan saya lebih baik lagi ke depannya," ucapnya.[tampetu/deni]


loading...
TAG