Naik 37 Persen, Kasus Narkoba di Barsel Belum Menyasar Pelajar

Print Friendly and PDF

BUNTOK - Meningkat sekitar 37 persen, atau sebanyak delapan kasus, dari 23 kasus di tahun 2017 menjadi 31 kasus di tahun 2018, aparat Kepolisian belum temukan pelaku pengedar dan pemakai Narkoba di kalangan pelajar di Kabupaten Barito Selatan.

Hingga penghujung tahun 2018, Satuan Res Narkoba (Satresnarkoba) Kepolisian Resort (Polres) Barsel, berhasil mengungkap 31 kasus penyalah gunaan obat-obatan terlarang, baik sabu, obat leter G, maupun lainnya.

Diungkapkan oleh Kapolres Barsel, AKBP Wahid Kurniawan SIK, melalui Kasatnarkoba, Itu Sanip SH, dari 31 kasus yang berhasil diungkap oleh jajaran Polres Barsel ini, semua pelaku, baik pemakai maupun pengedar adalah dari kalangan dewasa yang berprofesi swasta.

"Sampai saat ini, belum ditemukan para pelaku (narkoba), dari kalangan anak ataupun pelajar," ungkapnya kepada KabarKalteng, di Kantornya, Jumat (7/12/2018).

Semakin maraknya peredaran barang haram tersebut di wilayah hukum Barsel, diakui oleh Sanip, merupakan dampak dari banyak faktor, yaitu diantaranya, adalah sosial, ekonomi dan yang paling utama, adalah semakin mudahnya akses untuk menjangkau wilayah-wilayah sampai kepelosok daerah.

"Semakin mudahnya akses, merupakan salah satu faktor utama semakin maraknya peredaran narkotika. Dulu kita mudah menjaga pintu masuk, hanya dari arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan saja, tapi saat ini dari setiap wilayah, barang haram tersebut bisa masuk, terbukti bahkan kemarin, kan ada ditangkap di Lamandau yang masuk dari wilayah Kalimantan Barat, bahkan jumlahnya tidak sedikit, tujuh kilogram," jelasnya.

Untuk mengantisipasi semakin maraknya peredaran narkotika di Barsel, perwira polisi berpangkat dua balok inipun mengakui, bahwa pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi mengenai bahaya narkoba kepada masyarakat bahkan hingga ke pelosok daerah.

Selain itu, diakui Sanip lagi, guna memotong jalur peredaran, kini pihaknya tidak hanya menyasar wilayah perkotaan, namun juga sampai ke pelosok desa-desa.

"Untuk itu, kerjasama dari masyarakat juga sangat dibutuhkan, untuk terus memberikan informasi kepada kami, mengenai kemungkinan adanya peredaran (narkoba) di desa-desa. Karena tanpa bantuan dan dukungan dari masyarakat, kami bukanlah apa-apa," pungkasnya.[tampetu]


TAG