Bocah Penderita Hidrosefalus Menanti Kepedulian Pemkab Bartim

Print Friendly and PDF

TAMIANG LAYANG - Raut wajah sedih terpancar dari pasangan suami istri, Riko dan Arsine saat wartawan kabarkalteng.com menyambangi kediaman mereka di Desa Wuran Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, Minggu (25/11/2019).

Bagaimana tidak, buah hati mereka Kristyano Lefran, bocah laki-laki yang usianya belum genap tujuh tahun ini, terbaring lemah tanpa daya karena penyakit yang dideritanya selama hampir 2,5 tahun.

"Pada awalnya adalah anak yang lincah dan sehat. Dia bermain seperti anak seusianya pada umumnya. Ini berlangsung sampai anak saya  menginjak usia 2,5 tahun," ujar Riko.

Riko melanjutkan, di usianya tersebut anaknya mengalami kelainan, matanya tiba-tiba juling dan dibawa berobat ke Puskesmas akhirnya kembali normal.

Selang sekitar 5 bulan, Riko kembali melanjutkan cerita tentang keadaan anaknya, begitu usianya menginjak 3 tahun timbul lagi, tapi bukan matannya yang juling melainkan kejang-kejang, badannya panas dan disertai muntah-muntah.

"Saat kita bawa lagi berobat ke puskesmas, waktu itu perawat yang menanganinya mengatakan kalau itu akibat step serta gangguan pada perut. Tapi kejadian tersebut terus berulang-ulang, kita sudah upayakan pengobatannya melalui rumah sakit bahkan dengan obat tradisional. Tapi tidak sembuh juga" ungkapnya dengan panjang lebar.

Hingga pada akhrinya pada 2016 lalu, terjadi lagi perubahan pada batok kepalanya. Saat itu pihaknya dengan sigap membawa anak tersebut berobat ke rumah sakit dan atas saran beberapa orang warga akhirnya dibawa ke spesialis penyakit dalam guna mengetahui kondisi kesehatannya.

"Akhirnya disimpulkan bahwa anak kami ini terkena hidrosefalus atau penumpukan cairan pada ventrikel atau rongga otak hingga kepalanya makin membesar sehingga menggangu kerja fungsi saraf," tuturnya dengan nada sedih.

Riko kembali memaparkan, beberapa waktu lalu dia pernah didatangi oleh Kepala Desa Wuran, Eli Sumadi beserta beberapa orang dari Dinas Sosial Bartim untuk melakukan pendataan.

"Saat itu Kepala Desa Wuran meminta agar kiranya anak kami ini bisa ditangani sesegera mungkin, tapi dari pihak Dinas Sosial waktu itu mengatakan bersabar dulu sampai kouta 20 orang tahap kedua terpenuhi dan itu untuk 2019. Jadi saya dengan istri bingung maksudnya itu," tuturnya lagi.

Lebih lanjut, Riko pernah beberapa bulan yang lalu mencoba mendaftar ke BPJS Kesehatan untuk keluarga miskin, tapi waktu itu ditutup untuk sementara, yang ada cuma BPJS biasa yang tidak ditangung oleh pemerintah daerah yang artinya harus bayar sendiri.

"Sementara saat ini jangankan untuk menyetor angsuran BPJS, bahkan untuk biaya makan sehari-hari pun terasa berat," keluhnya.

Pekerjaan Riko hanya sebagai penyadap karet milik orang lain yang dipercayakan kepadanya dan hasilnya pun tidak memadai.
                      
"Saat ini kami cuma berharap belas kasihan dan uluran tangan serta perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Timur maupun pihak donatur agar anak kami bisa dioperasi dan tertangani pengobatannya dengan baik. Kalau kami sudah tidak punya daya, hanya bisa berdoa," ucapnya lirih.

Sementara itu, Kepala Desa Wuran saat dimintai keterangannya oleh kabarkalteng.com, Senin (26/11/2018) membenarkan perihal kondisi warganya tersebut.

"Iya, memang betul keluarga ini memang memerlukan uluran tangan dan bantuan semua pihak karena mereka jauh dari kata mampu dari sisi finansialnya. Berbekal hal tersebut saya juga mengetuk hati pemerintah daerah maupun para donatur agar kiranya bisa meringankan beban mereka," pungkasnya.[adi]


TAG