Pertualangan Adrenalin di Mata Penguji UKW

Print Friendly and PDF


PERJALANAN menuju Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur sekitar pekan ketiga Oktober 2018, tak setegang yang pernah kurasakan. Bayangan tatapan penguji dan sulitnya soal materi ujian, menghantui sekaligus memacu adrenalin petualang berita.

Indahnya pemandangan di tepi jalan sepanjang hampir 300 kilometer lebih dari Kota Pulang Pisau, Kabupaten Pulang Pisau menuju kota teramai di Kalimantan Tengah ini, seakan tak mampu melunturkan fokus pikiran ke materi yang masih misteri.

Ya…!, fokusku hanya tertuju pada materi yang bakal didapati sesampainya di kota dengan ikon Ikan Jelawat ini. Maklum, perjalanan ini terasa tegang, karena kehadiranku ke kota ini tidak untuk traveling melainkan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Tepat pukul 15.45, Jumat (19/10/2018), kakiku melangkah masuk kamar hotel. Sembari merebahkan badan yang lelah usai perjalanan, pikiranku masih diganggu misteri materi yang bakal diujikan.

Jika harus dipabarkan di tulisan ini tentang ketegangan yang melanda Pra UKW, sepertinya bakal panjang dan butuh berhalaman-halaman tulisan. Alhasil, ini pun harus kusudahi, dan langsung ke poin tujuan ke Kota Sampit.

Saat jarum pendek jam dinding menunjuk ke angka 9 dan jarum panjangnya ke angka 6, misteri materi ujian pun mulai tersibak. Bocoran ini cukup terbaca, meski masih dalam suasana opening ceremony UKW.

Materi ujian baru full diberikan penguji di hari kedua, Sabtu (20/10/2018). Akhir pekan ini cukup melelahkan, mengingat semua peserta harus mampu menjawab materi ujian sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Materi yang diterima peserta berbeda, tergantung tingkatan personal wartawan yang diambil dalam UKW dua hari, 19 hingga 20 Oktober 2018 ini.

Peserta juga baru bisa dinyatakan lulus, apabila telah mengantongi nilai rata-rata 70. Bahkan meski pada materi lain mendapat nilai tinggi, itu semua tak ada artinya apabila materi yang diujikan lainnya mendapat nilai di bawah standar.

Kondisi dan regulasi ini tentunya menambah beban pikiran yang sangat berat bagi seluruh peserta, tak terkecuali juga bagi anggota atau pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pulang Pisau.

Sebelum mengahadapi UKW, dengan mengetahui standar nilai tersebut tentunya membuat saya dan teman-teman seprofesi yang berani mengikuti UKW menjadi grogi.

Bukan hanya canggung di depan materi ujian dan penguji dari dewan pers dan wartawan senior di Bumi Tambun Bungai, rasa deg-degan, galau, pucat dan mungkin drop fisik, tetap menyelimuti pikiran dan personal peserta.

Makin tak karuan, begitu para peserta dihadapkan dan diberi sugesti tentang masing-masing karakter penguji yang sangat killer. Mungkin, bagi peserta lain yang sudah memahami betul tentang teknis UKW, merasa biasa-biasa aja tanpa beban berarti.

Siap tidak siap, suka tidak suka, peserta tetap harus optimis dan percaya diri. Soal lulus atau tidak lulus pun, tak harus menghentikan perjuangan mendapatkan sertifikasi kompetensi.

Salah satu sahabatku yang juga dari media online dan tergabung dalam PWI Pulang Pisau bergumam, “Lulus tidak lulus, yang penting berjuang dulu, karena materi yang diujikan memang terlihat dari praktik sehari-hari di lapangan,” ujarnya.

Bagi wartawan yang mengikuti kategori muda, paling berat ujiannya tak lain saat materi fasilitas jejaring. Di mana pada materi ini, kita diwajibkan menyerahkan minimal 20 nomor kontak plus nama dan jabatan narasumber.

Ini karena saat prosesi UKW, narasumber harus dihubungi di hadapan penguji menggunakan via telepon seluler. Ini tak lain, untuk diketahui penguji kalau wartawan ini memang memiliki hubungan baik dengan para narasumber, baik hubungan dengan kepala daerah (bupati/wakil bupati), pimpinan Forkopimda, Ketua/Wakil Ketua DPRD, Kepala SOPD, tokoh adat, tokoh masyarakat, bahkan sampai para Ketua RT.

Aku tak sendirian dalam merasakan kondisi ini. Di antara sahabat saya lainnya yang juga mengikuti kategori muda juga mengaku jika sebelum keberangkatan mengalami kondisi yang persis sama dengan kebanyakan peserta lainnya.

Mulai pikiran tidak karuan dalam menghadapi materi UKW, melakukan koordinasi kesana-sini dengan para wartawan senior lainnya, tentang gambaran bagaimana teknis UKW. Bahkan sejumlah buku-buku tentang jurnalistik pun habis terbaca, hanya untuk menyiapkan bekal mengikuti UKW.

Bahkan pula tugas keseharian dari kantor media pun kadang-kadang tak fokus dan cenderung dihiraukan. Beruntung, dewan radaksi di media yang menaungi saya, sangat memaklumi hal itu.

Bagi pimpinan di kabar kalteng, UKW sangat penting dalam menentukan bagaimana ke depannya karaktetistik seorang jurnalis sejati dalam menjalankan tugas pokok sebagai seorang wartawan.

Menurut temanku, wartawan bukan hanya dituntut pandai menulis berita saja...!, namun juga dituntut patuh pada hukum atau aturan-aturan yang berlaku dalam dunia jurnalistik.

Di antaranya, jurnalis harus memahami betul tentang Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik. “Ini tentunya harus melekat dalam diri seorang jurnalis, agar tidak kebablasan," ujar kawan seprofesi ini.

Berat memang menghadapi UKW. Akan tetapi apa hendak dikata..! Untuk menjadi seorang wartawan profesional, tentunya harus mengikuti aturan yang berlaku.

Banyak kalangan yang kadang-kadang mempertanyaan apa itu UKW? Bahkan aku sendiri pun sebelumnya belum mengetahui apa itu UKW, sempat bingung dan bertanya-tanya kepada para senior, termasuk bertanya kepada Pimpinan Perusahan di mana aku bernaung?

Aku berkesimpulan, pada intinya UKW adalah salah satu standar kompetensi wartawan yang ada di Indonesia yang dilakukan oleh Dewan Pers bersama organisasi kewartawanan, termasuk PWI.

Sementara itu, mengambil saran dan nasehat dari beberapa senior yang sudah paham betul tentang pelaksanaan UKW, mereka mengatakan kalau di UKW tidak ada faktor keberuntungan. Kegiatan ini murni dari kerja keras para peserta UKW.

Ini tentang sejauh mana peserta dapat memahami dan mengetahui teknis dalam setiap rangkaian pelaksanaanya. Karena mata-mata penguji selalu mengintai setiap sudut gerak-gerik peserta. Belum lagi karakter penguji ada yang keras dan lembut, namun semuanya sangat idealis.

"Tidak ada keberuntungan dalam UKW, kalau tidak lulus ya tidak, dan kalau lulus ya lulus," cecar Ketua PWI Pulang Pisau, I Nyoman Weda menggambarkan tentang prosesi UKW.

Dari rekomendasi PWI Pulang Pisau, terdapat tujuh wartawan yang ambil bagian di UKW 2018 ini, termasuk saya. Total peserta di ukw sampit ini sendiri berjumlah lebih dari 50 wartawan.

Mereka berasal dari berbagai media masa, mulai media cetak, elekronik, dan online di Wilayah Kalimantan Tengah. Sedikitnya ada tiga kategori pada UKW ini, yakni tingkat muda (bagi wartawan dan reporter), madya (bagi redaktur), dan utama (bagi Pemimpin Redaksi/Wakil Pemred).

Peserta UKW, tak hanya dari kalangan wartawan junior, namun banyak juga wartawan senior. Singkat kata, sebagian besar peserta dinyatakan lulus oleh penguji, termasuk aku.[]

Penulis: Abdul Manan (Jurnalis KabarKalteng)


TAG