• Latest News

    Rabu, 19 September 2018

    Tak Bayar Uang Damai, SMK Ini Pulangkan 29 Muridnya


    BUNTOK - Aneh bin ajaib, pihak SMK Negeri 1 Buntok, tega memulangkan 29 orang murid mereka, yakni seluruh murid dalam satu kelas tingkat XI Jurusan Otomotif mereka, hanya lantaran tidak bisa membayar uang perdamaian sebesar Rp500.000 per orang.

    Informasi dipulangkannya sebanyak 29 murid ini, berdasarkan surat Kepala SMK Negeri 1 Buntok dengan Nomor 421.2/551-31/14/SMKN-1 BTK/IX/2018, dengan perihal Pemulangan Siswa.

    Dalam surat tersebut, dikatakan bahwa menindak lanjuti surat sebelumnya, yakni surat Kepala SMK Negeri 1 Buntok Nomor 421.2/474.74/14/SMKN - 1 BTK/VIII/2018, dengan perihal Pelunasan Biaya Berobat Korban Penganiayaan dan Lain-lain, pihak sekolah terpaksa melakukan pemulangan terhadap para siswa yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap salah satu siswa SMK Negeri Buntok lainnya beberapa waktu lalu, karena selalu ditagih oleh keluarga korban mengenai pelunasan uang perdamaian untuk biaya pengobatan dan pemulihan psikologi korban, dianggap sudah jatuh tempo pada Selasa (18/9/2018).

    "Hal ini terpaksa dilakukan, karena orang tua korban terus menerus meminta pihak sekolah untuk menagih pembayaran kepada Bapak/Ibu karena sangat memerlukan uang tersebut, namun sampai sekarang belum ada tanggapan dikarenakan anak Bapak/Ibu beralasan tidak bisa membayar," demikian bunyi kutipan dari isi surat dengan perihal pemulangan siswa tersebut.

    Hal inilah, yang kemudian dikeluhkan oleh pihak keluarga dugaan pelaku dan saksi aksi pengeroyokan. Salah satunya adalah Weli (47) warga Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Barsel, yang merupakan orang tua salah satu dari 29 Siswa yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian penganiayaan terhadap salah satu siswa SMKN 1 Buntok bulan Juli 2018 lalu.

    "Saya bingung, kenapa pihak sekolah sampai tega memulangkan anak-anak kami, hanya gara-gara tidak bisa membayar uang perdamaian yang tidak pernah kami tanda tangani berita acaranya tersebut," keluhnya dengan nada bingung, ketika ditemui awak media, Rabu (19/8/2018).

    Weli yang ditemui awak media di Kantor DPRD Barsel, saat sedang melakukan konsultasi dengan beberapa anggota dewan mengenai kasus tersebut, juga menceritakan bahwa ditetapkannya ke-29 siswa tersebut sebagai yang bertanggung jawab terhadap kejadian penganiayaan atas salah satu murid SMKN 1 Buntok tersebut, sangat tidak masuk akal.

    Pasalnya, dari ke-29 murid tersebut hanya satu diantaranya yang mengaku melakukan pemukulan terhadap korban, sedangkan 28 orang lainnya termasuk anaknya hanyalah ikut menyaksikan saja.

    "Ini saya tambah bingung, bagaimana mungkin saksi juga harus bertanggung jawab perihal pembayaran uang perdamaian itu," tukasnya.

    Sementara itu, ketika dikonfirmasi via sambungan telepon, Rabu malam (19/8/2018), Kepala SMKN 1 Buntok, Joko Lelono SP MM, mengatakan bahwa perihal pembayaran uang perdamaian tersebut, sudah disepakati oleh kedua belah pihak, baik korban maupun ke-29 murid yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian penganiayaan tersebut, dalam mediasi yang dilakukan pada awal bulan Agustus 2018, yang dilaksanakan di Gedung SMKN 1 Buntok.

    Namun ketika ditanya perihal, apakah sudah atau belumnya ditanda tanganinya surat kesepakatan tersebut oleh kedua belah pihak, Joko hanya menyarankan agar awak media menghubungi pihak Kepolsian Sektor (Polsek) Kecamatan Dusun Selatan, sebab perihal tersebut ditangani oleh pihak Polsek bersangkutan.

    "Mediasi waktu itu, kan juga ditangani dan dihadiri oleh pihak Polsek Dusun Selatan mas, jadi cari tahu saja tentang kejelasan kesepakatannya seperti apa di sana (Polsek) saja," sarannya.

    Sedangkan terkait permasalahan pemulangan siswa itu sendiri, dijelaskan oleh Joko, bahwa hal tersebut bukannlah bersifat hukuman, ataupun pemberhentian terhadap siswa yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini, namun hanyalah bentuk upaya pihak sekolah agar para siswa tersebut bisa pulang dan mengkomunikasikan perihal tersebut kepada orang tua atau wali mereka.

    "Kami bukan menghukum ataupun memberhentikan mas, tapi hanya berupaya agar mereka bisa pulang dan mengkomunikasikan masalah ini sama orang tua ataupun wali murid mereka, supaya cepat dapat solusi bagaimana segera membayar uang pembayaran tersebut, meskipun dengan cara menyicil sesuai dengan kesepakatan waktu mediasi itu," jelasnya.

    Kejadian dugaan pengeroyokan terhadap siswa kelas X tersebut, diceritakan oleh Joko terjadi di bulan Juli 2018 lalu. Dalam kejadian yang memakan korban dua orang itu, yakni satu siswa laki-laki kelas X dirawat di RSUD Jaraga Sasameh dan 1 orang siswa perempuan yang juga kelas X yang tangannya keselo.

    Kejadian penganiayaan itu, diduga dilakukan secara beramai-ramai oleh siswa kelas XI jurusan otomotif, yang menyerang dari ruang kelas mereka yang berjarak sekitar 500 meter dari ruang kelas korban.

    Diakui Joko, pada saat kejadian, karena dirinya dan guru-guru lainnya tidak bisa mengatasi karena banyaknya anak yang terlibat, maka dipanggillah pihak Polsek Dusun Selatan untuk menanganinya.

    "Mereka menyerang kekelas lain mas, jaraknya 500 meter dari kelas mereka, bayangkan saja apa gak salah namanya? Karena waktu kejadian kami tidak sanggup menanganinya, makanya kami minta tolong pihak Polsek yang urus," ceritanya.[tampetu]



    • Komentar
    • Facebook Komentar

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Tak Bayar Uang Damai, SMK Ini Pulangkan 29 Muridnya Rating: 5 Reviewed By: Kabar Kalteng
    Scroll to Top