Tangani Lima Kasus, Kejati: Satu Naik ke Penyidikan

Print Friendly and PDF


PALANGKA RAYA - Sepanjang Januari hingga Juli 2018, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Tengah (Kalteng) telah menangani lima kasus tindak pidana korupsi, satu dibantaranya sudah dinaikkan ke proses penyidikan.

Kasus tersebut tak lain terkait pembangunan Bandara HM Sidik di Desa Tinsing Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Barut).

Ini seperti yang diungkapkan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalteng, Adi Sutanto melalui Asisten Pidana Khusus (Pidsus), Adi Santoso saat dikonfirmasikan KabarKalteng melewat telepon seluler, Kamis (26/7/2018) pagi.

Menurutnya, kelima kasus tersebut, yakni pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan provinsi tahun 2014-2015 pada Dinas PU Barito Selatan (Barsel), dan tentang pemberian jaminan Bank Garansi Oleh PT Askrindo, terkait pembuatan jalan PKP PK Muara Teweh.

Selanjutnya, tentang pekerjaan jalan masuk dan halaman parkir Bandara HM Sidik Muara Teweh, dan terakhir tentang kegiatan pelaksanaan pembangunan Bandar Udara di Desa Trinsing Muara Teweh untuk lapisan landasan pacu senilai Rp16 miliar lebih.

"Saat ini kasusnya telah dinaikkan ke tahap penyidikan, sedangkan empat kasus yang lainnya masih dalam tahap penyelidikan,” ungkap Adi.

Adi mengatakan, dalam lima kasus yang mereka tangani, satu di antaranya telah menetapkan tiga orang tersangka, yakni tersangka pertama Agustinus Sujatmiko dalam proyek lapisan landasan pacu sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

Kemudian tersangka kedua, Hadi Sugiarto sebagai pelaksana PT Dian Sentosa pada pekerjaan lapisan landasan pacu Bandara, dan tersangka ketiga, Felix Erwin Simanjuntak sebagai konsultan pengawas pada proyek tersebut.

“Dari ketiga tersangka ini, tersangka Hadi Sugiarto telah mengembalikan kerugian Negara sebesar Rp3 miliar, ” tuturnya.

Dia menambahkan, Kejati Kalteng terus melakukan pengembangan dan penyidikan lebih lanjut. Terungkapnya kasus dugaan tipikor ini merupakan hasil penyelidikan kejaksaan, berdasar data yang diperoleh dari intelijen.

“Itu hasil penyelidikan, yang sebelumnya dari data intelejen yang diserahkan ke Pidsus,” ucap pria kelahiran Jawa Timur ini.

Untuk diketahui, dugaan tipikor Bandara HM Sidik Muara Teweh itu, terkait pekerjaan lapisan landasan pacu taxiway, apron seluas 57.600 m2, yang dilaksanakan oleh PT Dian Sentosa dengan nilai kontrak Rp16,521 miliar.

Perkembangan kasusnya telah ditingkatkan dari penyelidikan ke tahap penyidikan pada 3 Mei 2018 lalu.[deni]


TAG