Hore...!!! PT Thuge Siap Beroperasi di Barsel

Print Friendly and PDF


BUNTOK - PT Thu Green Energi (Thuge), yang berada di dua Wilayah Desa, yakni desa Penda Asem dan desa Pararapak, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, kini tengah mempersiapkan diri untuk segera beroperasi.

Kabar gembira ini, disampaikan oleh Humas PT Thuge, Sigit, kepada KabarKalteng, Rabu (16/5/2018), di Buntok. Disampaikan oleh pria asli dari desa Kandui, Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, PT Thuge, merupakan perusahaan milik Asing, yang bergerak di bidang pabrik pengolahan briket arang, kini tengah mempersiapkan lahan untuk segera mendirikan pabrik dan beroperasi di Barsel.

"Kami (PT Thuge), kini tengah mempersiapkan lahan di  dua desa, yakni Pendapat Asem dan Pararapak, lahan itu luasnya kurang lebih 22 hektar, rencananya didirikan pabrik briket arang," terangnya.

Lanjut Sigit, dengan beroperasinya PT Thuge nanti, kedepannya dipastikan akan banyak menyerap tenaga kerja, sebab pabrik briket arang tersebut nantinya akan menggunakan sistem kerja tiga shift.

"Rencananya kan pakai sistem kerja tiga shift, jadi mungkin akan banyak membutuhkan tenaga kerja!" tuturnya.

Namun untuk sementara, jelas Sigit lagi, penerimaan tenaga kerja dimaksud akan dimulai secepatnya setelah Idul Fitri bahkan bisa lebih lama lagi, karena menunggu kesiapan lahan tempat pendirian pabrik.

Untuk ketenaga kerjaan sendiri, menurut Sigit, pihaknya sudah menyiapkan sistem sesuai dengan perintah management perusahaan yang berpusat di Hongkong, yang meminta agar tenaga kerja yang direkruit merupakan sesuai dengan peraturan yang berlaku di daerah Kalimantan Tengah, yakni lebih banyak persentase tenaga kerja lokal dibanding dari luar daerah.

"Prioritas utama rekruitment karyawan nantinya, kita utamakan di ring satu dulu, seperti tenaga kerja asal desa Penda Asem, Pararapak, Kalahien, Mabuan dan desa-desa sekitar, yang letaknya memang berdampak langsung dari wilayah kerja perusahaan," tukasnya.

PT Thuge sendiri, didirikan dan beroperaso di Barsel, merupakan didasari karena kepedulian menyangkut dampak dari pemanasan global, yang semakin hari semakin memprihatinkan. Dengan adanya pengolahan limbah kayu menjadi briket arang, sebagai bahan bakar alternatif diharapkan kedepannya mampu menggantikan posisi batu bara,  yang merupakan komiditi tambang yang kini sudah mulai banyak ditinggalkan oleh negara-negara besar, seperti China, Rusia dan Amerika, sebab dinilai memiliki kandungan polusi sangat berpengaruh pada kerusakan lapisan Ozon bumi.

Selain itu, pabrik briket arang, juga berperan penting dalam mendaur ulang limbah-limbah kayu, baik sisa-sisa dari perusahaan-perusahan HPH, maupun limbah kayu masyarakat.

"Asal jangan kayu lapuk dan pohon karet saja, semuanya akan kami manfaatkan, baik batang, akarnya, maupun ranting dan dahannya," ucap Sigit.[tampetu]


TAG