Pokmaswas Berperan Penting Menjaga Kealamian dan Jumlah Populasi Ikan

Print Friendly and PDF


TAMIANG LAYANG - Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), harus menjadi yang terdepan sebagai kelompok masyarakat, yang bertugas mengawasi dan menjaga kealamian habitat perikanan, sehingga mampu mempertahankan jumlah populasi ikan.               

Hal ini, ditekan oleh Kabid Pemberdayaan Nelayan Kecil, Dinas Perikanan Kabupaten Barito Timur, Irwan Setyano S.pi, dalam kegiatan sosialisasi pelestarian sumber daya ikan.

Bertempat di Aula Kantor Desa Kupang Baru, Kecamatan Paku, Bartim, Rabu,(28/3/2018). Irwan dalam paparannya, menekankan betapa pentingnya fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Pokmaswas, dalam upaya memantau setiap kegiatan penangkapan ikan dan memastikan agar kegiatan yang dimaksud tidak bertentangan dengan hukum dan perundang undangan yang berlaku.

Hal tersebut harus dilakukan, sebagai upaya penyelamatan habitat alami tempat perkembangan biakan ikan, sehingga mampu mempertahankan jumlah populasi ikan di alam, agar bisa terus menerus dapat dipanen oleh masyarakat.

"Untuk itu, pola penangkapan ikan harus sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan, tidak boleh menangkap dengan alat - alat atau cara - cara yang dapat merusak populasi ikan itu sendiri. Contohnya, seperti pengunaan potas, setrum dan juga bahan dan alat berbahaya lainnya seperti bom dan sebagainya," ujarnya mengingatkan.
                     
Sementara itu, pada saat sesi tanya jawab, ketua Pokmaswas Desa Kupang Baru, Adi (42) mengatakan, bahwa saat ini kerusakan areal perairan tempat nelayan mencari ikan, lebih banyak persentasenya  dikarenakan aktivitas perusahaan tambang batu bara, yang kebanyakan lokasinya berada di hulu sungai, dibandingkan kerusakan yang diakibatkan oleh proses penangkapan.

Sebagi contoh paling ironis, adalah bendungan Desa Tampa, yang disinyalir mengalami kerusakan berat habitat alami perikanannya, diakibatkan banyaknya aktivitas pertambangan di bagian hulu sungai Paku, yang merupakan sumber mata air utama be dungan tersebut. Padahal Selama ini, areal tersebut merupakan tempat masyarakat dari lima Desa sekitar, sebagai lokasi utama untuk mencari ikan.   

"Selama ini, yang kami tahu, sebagai nelayan yang memang sehari-harinya melakukan penangkapan ikan di Bendungan Tampa, banyak masyarakat dari lima desa yang beraktivitas di sana dan kesemuanya selalu berusaha menjaga ekosistem dengan baik, agar tetap alami dengan cara menangkap ikan menggunakan alat tangkap tradisional," terangnya

Menyangkut hal tersebut, Adi, mengharapkan adanya upaya Pemkab Bartim dan seluruh stakeholder yang terkait dalam pengawasan pelestarian habitat alami perikanan, agar turut serta dipanggil kembali, untuk berkumpul bersama masyarakt.

"Saya berharap, agar kegiatan sosialisasi seperti hari ini, bisa terus dilakukan oleh Pemkab, tapi jangan hanya masyarakat dan Pemkab saja, namun juga kalau pihak perusahaan pertambangan yang berada di hulu sungai, agar ikut sebagai stakeholder yang bertanggung jawab menjaga dan mengawasi upaya pelesetarian lingkungan," pintanya.
.
Hal tersebut mendapat tangapan positif dari Kades Desa Kupang Baru, Eko Setiawan, yang pada kesempatan itu, berjanji akan mengupayakan agar pertemuan warga dari beberapa desa terdampak aktivitas pertambangan tersebut bisa terlaksana secepatnya dengan pihak Perusahaan Batu Bara.

"Kita akan upayakan, agar permasalahan kelestarian habitat perikanan alami ini, bisa dibahas bersama-sama antar masyarakat dari beberapa desa terdampak dengan pihak perusahaan tambang yang beraktivitas di bagian hulu bendungan. Guna mencari solusi terbaik, agar kita semua bisa memberikan ide-ide terbaik untuk mencapai solusi saling menguntungkan, baik bagi masyarakat maupun pihak perusahaan," tukasnya.                                                          

Di sisi berbeda, harapan besar ditempatkan oleh tubuh Kepolisian, terhadap terlaksananya sosialisasi tersebut. Terutama dalam bidang hukum, seperti yang disampaikan oleh Wakapolsek Kecamatan Dusun Tengah, Ipda Kuslan, yang pada kesempatan itu sangat berharap, agar kegiatan sosialisasi tersebut, dapat memberikan manfaat bagi seluruh element masyarakat, guna mengetahui dan selalu melaksanakan kegiatan penangkapan ikan di alam, yang sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

"Semoga saja, dengan adanya sosialisasi ini, kelak semua aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan, tidak ada lagi yang dilakukan bertentangan dengan hukum yang berlaku!" harap Kuslan.[adi]


TAG