Waduh..!!, Kalimantan jadi Jalur Rawan Pendistribusian Narkoba?

Print Friendly and PDF


SAMPIT - Pulau Kalimantan merupakan wilayah teritorial Indonesia yang berbatasan langsung dengan dua negara lain. Hal ini, merupakan 'ladang subur' bagi sindikat pengedar narkoba jaringan internasional, sebagai jalur pendistribusikan obat - obatan terlarang tersebut, baik melalui darat maupun via laut.

Bertempat di Werra Hotel Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu malam (25/2/2018), organisasi kemasyarakatan yang menamakan dirinya, Aksi Masyarakat Anti Narkoba (AMAN) Kotawaringin Timur, menggelar acara talk show bertajuk Hidup Indah Tanpa Narkoba. Kegiatan ini mengusung tema; Peran Serta Masyarakat Dalam Mencegah Peredaran Narkoba.

Acara yang dihadiri dan dibuka secara langsung, oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Habib Said Ismail, dan didampingi oleh Wakil Bupati Kotim, HM Taufiq Mukri, juga dihadiri oleh para undangan dari perwakilan instansi pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, para pelajar, mahasiswa, guru, camat, lurah dan para Kepala Desa se-Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sebagai nara sumber hadir Irjen (purn) Benny J Mamoto, yang merupakan Duta Anti Narkoba Ikatan Alumni Universitas Indonesia, kemudian DR Endang Mariani M.Si, seorang Penggiat Anti Narkoba Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan Maman Suherman yang juga merupakan Duta Literasi Ikatan Alumni Universitas Indonesia, selain sebagai salah satu Jurnalis senior di Indonesia.

Dalam paparannya, Benny J Mamoto, yang pernah menjabat sebagai Deputy Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini mengatakan, berbagai cara dilakukan oleh para anggota sindikat narkoba internasional untuk bisa memasukan dan mengedarkan narkoba ke Indonesia selama ini. Salah satunya yang dinilai cukup rawan adalah melalui pulau Kalimantan, yang dipasok dari luar negeri melalui jalur darat dan jalur laut.

"Indonesia rawan narkoba, para sindikat internasional diketahui seringkali memasok narkoba, dari luar negeri melalui darat dan laut pulau Kalimantan," terangnya.

Benny menambahkan, bahwa kasus narkoba di Indonesia sudah semakin parah, dan bahkan sudah memasuki berbagai tingkatan usia dan berbagai profesi. Maka dari itu, pemahaman tentang bahaya narkoba, sangat dibutuhkan dan masyarakat pun harus berperan aktif, terlibat dalam pemberantasan narkoba.

"Seluruh lapisan masyarakat, sudah semestinya berperan aktif, ikut serta dalam upaya pemberantasan narkoba," imbaunya.

Di sisi lain, Endang Mariani menyampaikan, bahwa peranan keluarga khususnya orangtua, sangat dominan pengaruhnya untuk menyelamatkan anak-anak dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Walaupun sering dalam beberapa kasus, para orangtua terlambat mengetahui bahwa anaknya sudah terjerumus kedalam penggunaan narkoba.

"Peranan keluarga terutama orangtua, sangatlah penting dalam hal menyelamatkan generasi muda, dari pengaruh buruk narkoba. Untuk itu, diharapkan agar para orangtua, berperan serta mencari tahu informasi, agar memahami sedetail mungkin mengenai bahaya narkoba," saran Endang.

Sementara itu, Maman Suherman, atau yang biasa disapa Kang Maman dan kerap tampil sebagai notulis di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) ini mengatakan, saat ini ada 5,9 juta orang pengguna narkoba di Indonesia dan sekitar 40 persen pengguna narkoba, meninggal dunia setiap harinya. Dengan kenyataan ini, ia mengingatkan kita semua harus peduli, agar peredaran narkoba bisa terus ditekan.

"Semua orang harus perduli, sebab dengan begitulah peredaran narkoba bisa kita tekan bersama!," ingatkan Kang Maman.

Dalam acara talk show yang baru pertama kalinya diadakan ini, masyarakat Kotim berharap agar instansi terkait dan aparat penegak hukum, dapat lebih serius dan tegas dalam memberantas narkoba, khususnya di wilayah Kotim yang merupakan salah satu daerah merah peredaran narkoba di Indonesia.[tomi]


TAG