Tak Punya Biaya, Warga Minta Sumbangan Suka Rela untuk Bayar BPJS

Print Friendly and PDF


PULANG PISAU – Diduga mengidap gangguan jiwa, Firdaus (22) warga Desa Mantaren II, RT 02, Kecamatan Kahayan Hilir (Kahlir), Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) terpaksa harus dirantai oleh pihak keluarganya.

"Terpaksa kita rantai karena kita takut kalau dia keluar rumah tanpa sepengetahuan kami, dan Firdaus ini bisa membongkar-bongkar isi rumah bila dilepas. Dari itu kita terpaksa merantainya," ujar Mutmainah, yang merupakan kaka kandunga dari Firdaus kepada KabakKalteng, Kamis (11/1/2018) di kediamannya.

Melihat hal tersebut, pihak keluarganya berupaya untuk melakukan pengobatan dengan harapan Firdaus bisa sembuh dari sakitnya. Ironisnya, meski demikian Firdaus tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat karena yang bersangkutan tidak dianggap sebagai warga Pulpis. 

Meski tidak mendapat perhatian pemerintah, dan terdaftar sebagai orang yang kurang mampu, tidak menyurutkan keinginan kedua orang tua dan sanak saudaranya untuk tetap berusaha menyembuhkannya, sehingga pihaknya keluarganya harus meminta bantuan suka rela kepada seluruh warga desa setempat untuk membayar uang BPJS.

Dari informasi yang berhasil dihimpun KabarKalteng, keluarga yang telah tinggal bersama sebanyak 8 orang sejak delapan tahun terakhir ini dalam satu rumah itu memang dalam keadaan kurang mampu.

Namun, di sini pihak keluarga Firdaus tidak mempermasalahkan terkait keadaannya, yang mereka inginkan ialah bentuk keadilan sebagai warga masyarakat yang meminta sejajar dengan pihak lainnya.

Pasalnya, pihak keluarga Firdaus sudah cukup lama berdomisili di Bumi Handep Hapakat ini yang parahnya lagi malah disebut sebut sebagai pendatang dan tidak memiliki identitas jelas.

Sedangkan dari pengakuan Mutmainah bahwa dirinya telah tinggal dan memiliki identitas penduduk yang jelas sebagai penduduk Kabupaten Pulpis.

Dia juga mengaku bahwa dalam satu bulan terakhir adiknya mengalami gangguan kejiwaan, dimana lantaran tidak memiliki biaya untuk melunasi BPJS dan kerap menggangu orang hal tersebut terpaksa dilakukan.

“Awalnya normal kaya anak biasanya. Namun setelah mengalami kecelakaan tunggal tiga tahun lalu hingga kaki kanannya cacat, dalam sebulan terakhir dia stres dan sering ngamuk, jadi terpaksa kami ginikan. Kami juga terpaksa minta bantuan kepada masyarakat untuk biaya bayar BPJS. Jujur saja buat makan saja kami kesusahan apalagi buat berobat,” ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga mengungkapkan, sebelumnya dirinya telah berusaha menggunakan kartu BPJS, lantaran terjadi penunggakan akhirnya tidak dapat ditangani, dan diberikan syarat untuk melunasi terlebih dahulu.

“Jadi dari uang yang kami kumpulkan terkumpul sebanyak Rp1,2 Juta. Uang itu nantinya akan gunakan untuk membayar BPJS tapi masih kurang. Kalau sudah terkumpul baru kita antar ke RS Jiwa. Saya juga sudah melapor ke desa setempat bahkan sampai ke pihak Dinas Sosial. Tapi harus menggunakan KTP, Kita sih mau saja ngurus KTP dia tpi kalau orangnya stress gini apa bisa melakukan perekaman, paling tidak dari dinas terkait lah yang jemput bola, sehingga dapat melakukan perekman atau ada kebijakan lainnya,” keluhnya.[manan]


TAG