Ditagih, PT Rimau Bayar Sewa Tanah

Print Friendly and PDF


TAMIANG LAYANG - Setelah  hampir satu tahun diterbengkalaikan, tuntutan salah satu warga Desa Jaweten, Kecamatan Dusun Timur, Barito Timur, akhirnya dipenuhi oleh PT Rimau Electric (RE).

Tuntutan terkait perjanjian sewa tanah dan penimbunan saluran pipa air, yang sudah jatuh tempo ini, akhirnya menghasilkan kesepakatan.

Pihak PT RE electric,bersedia membayar uang sewa tanah yang dilintasi pipa air PLTU, kurang lebih tujuh juta rupiah dan tali asih sebesar lima juta rupiah, untuk saluran pipa air yang tidak dilakukan upaya penimbunan tersebut.

Pembayaran sewa lahan serta tali asih tersebut diserahkan langsung oleh pihak PT RE, yang diwakili oleh Legal Officer, Sulaeman S.HI M.H bertempat dirumah Pelson (45), yang merupakan pemilik lahan yang dilintasi jalur pipa tersebut.

Pembayaran serta penanda tanganan surat perjanjian, Selasa ( 16/1/2018 ) yang salah satu pointnya adalah, pemilik lahan membebaskan pihak perusahaan dari kewajiban menimbun jalur pipa tersebut.   
                                      
Kepada KabarKalteng, Pelson menceritakan kronologis tuntutan tersebut, berawal dari surat perjanjian bahwa pihak PT RE diharuskan menyelesaikan penimbunan jalur pipa air, dari sungai awang menuju PLTU tersebut selesai sebelum tanggal 3 januari 2018.

"Awalnya ada para pekerja yang mengerjakan penimbunan pipa tersebut, tapi pekerja tersebut diberhentikan sementara penimbunan pipa belum selesai, itu yang membuat saya heran dan bertanya pada pihak perusahaan kenapa penimbunan dihentikan dan alasan pihak perusahaan karena ada pengurangan tenaga kerja" terang Pelson.
                                                   
Lebih lanjut, Pelson menceritakan setelah para pekerja tersebut diberhentikan, sekitar bulan maret 2017 pihak perusahaan meminta dia mengerjakan penimbunan pipa tersebut. Akan tetapi saat itu perusahaan merasa berat dengan upah penimbunan yang saya ajukan, yakni sebesar lima puluh juta rupiah untuk dua titik yang ukuran panjangnya berkisar seratus delapan puluh lima meter tersebut.

"Dua titik tersebut termasuk punya saudara saya yang tanah nya juga dilintasi jalur pipa, hingga akhirnya pada april 2017 setelah tawar menawar, saya dan saudara saya menyetujui permintaan dari pihak perusahaan agar upah penimbunan dikurangi menjadi tiga puluh juta rupiah, tapi herannya setelah ada kesepakatan, realisasinya tidak ada padahal kita sudah mengikuti apa yang pihak perusahaan inginkan" paparnya sembari berharap pihak perusahaan dapat secepatnya melakukan pembayaran, apa yang menjadi hak saudaranya yang tanahnya juga dilewati jalur pipa Perusahaan.

Sementara itu, salah satu kerabat Pelson yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan bahwa pihak perusahaan terkesan mencoba menghindari tanggung jawabnya dan berusaha mengaburkan apa yang menjadi substansi atau pokok permasalahannya.

"Perusahaan berjanji bahwa akan membuat jalan sepanjang jalur pipa, kemudian penimbunan diharuskan selesai sebelum 3 januari 2018 itu saya rasa perlu dipertanyakan kembali relisasinya," ucapnya.

Menurut dia, wajar saja bila masyarakat bertanya dan menuntut apa yang sudah dijanjikan pihak perusahaan.

"Apalagi ada surat perjanjiannya, bila alasan dikarenakan daerah tersebut rawa-rawa hingga tidak bisa dikerjakan, itu alasan klasik saja. Perusahaan sawit yang areal perkebunannya diwilayah kita ini hampir semuanya rawa-rawa, toh bisa bikin jalan, bisa dilakukan penimbunan" katanya sedikit memberikan gambaran.[adi]


TAG