Cegah Kasus Orang Utan Dibantai lagi, BKSDA Kalteng Buka Layanan Pengaduan

Print Friendly and PDF


PALANGKA RAYA - Guna mencegah terjadi kembali kasus pembataian Orang Utan dan satwa langka yang dilindungi UU di Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, buka layanan pengaduan masyarakat (call center).

Kasus penemuan bangkai orang utan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, di wilayah Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Barsel, Senin (15/1/2018) lalu, menghebohkan masyarakat Kalteng, khususnya Barsel. Sehingga menyebabkan bangkai orang utan yang sudah dikubur tersebut, harus dibongkar kembali, guna dilakukannya nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Ditemui di kantornya, Jumat (19/1/2018), Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubbag TU) BKSDA Provinsi Kalteng, Handi Nasoka, mengatakan bahwa pihaknya telah membuka layanan pengaduan masyarakat, melalui call center dan whatsaap di nomor 082253548795.

Call center ini berguna sebagai wadah masyarakat, untuk melaporkan sebagai upaya mencegah terjadinya bentrok, konflik dan perburuan ilegal oleh manusia, terhadap satwa langka yang dilindungi oleh UU di wilayah Kalteng.

"Masyarakat kita harapkan bisa melaporkan langsung kepada kami (BKSDA), melalui call center yang sediakan, apabila mengetahui keberadaan satwa langka yang harus segera ditangani," jelas Handi.

Selain melakukan pencegahan terhadap kasus serupa, dengan menyediakan layanan pengaduan Masyarakat.

BKSDA Kalteng juga, menurut Handi lagi, akan memberikan pelayanan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat, menyangkut upaya perlindungan satwa langka dan habitatnya.

"Selain sebagai layanan pengaduan, masyarakat juga bisa mencegah kasus serupa dengan meminta penyuluhan dan edukasi terkait upaya bersama dalam pelestarian satwa langka dan habitatnya di Kalteng," janji Handi.

Dilain pihak, drh M Hifzi Irsada, selaku dokter hewan BKSDA Kalteng, menjelaskan bahwa dari hasil nekropsi (Outopsi) bangkai orang utan, Kamis (18/1/2018), yang melibatkan dokter hewan dari yayasan Borneo Orang Hutan Survival (BOS) Nyaru Menteng, seperti drh Marios Tandang, drh Gregy H Poetra, dr Ricka dan di back up oleh tim forensik Dokkes Polda Kalteng tersebut.

Ditemukan bahwa primata yang dilindungi oleh UU itu, tewas karena berondongan 17 peluru senapan angin.

"Satu peluru di paha kiri, 14 peluru di bagian depan, dan dua peluru di bagian belakang atau punggung," kata Hifzi.

Luka-luka yang dialami orangutan jantan dewasa itu juga disebabkan oleh benda tajam.

"Pada bagian leher ditemukan lebih tiga luka yang disebabkan oleh benda tajam, sehingga leher putus kena tebasan," Lanjut Hifzi.

Selain itu, lambung primata yang dilindungi undang-undang itu mengalami patah 7 tulang rusuk sebelah kiri, dan lambung pecah karena terjangan peluru. Jantung dan paru-paru juga terkena peluru.

"Bagian dada sebelah kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul yang menyebabkan tulang rusuk patah," tambah Hifzi menerangkan.[tampetu/deni]


TAG