Pengurus Handel Pertanyakan Pembuatan Skat Kanal Handel Baru

Print Friendly and PDF


PULANG PISAU- Pembuatan sejumlah Sekat Kanal/tabat di Handel Baru Desa Mantaren I, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), menuai protes dari warga setempat yang memiliki lahan pertanian di lokasi handel tersebut. Pasalnya, pembutan sekat kanal/tabat itu sama sekali tidak melalui sosialiaasi.

Seperti yang dituturkan Muhammad As'ad, salah satu warga setempat yang juga selaku sekretaris Handel Baru mengatakan, pihaknya sama sekali tidak mengetahui adanya proses pembuatan sekat kanal di lokasi Handel Baru.

Menurut Muhammad As'ad, seharusnya sebelum kegiatan pembuatan skat kanal  ini berjalan paling tidak diketahui dan dilibatkan dari yang punya handel dan lahan. Bukan dengan cara begini langsung ada pembuatan tabat tanpa disosialisasi terlebih dahulu.

Dirinya juga mengaku justru mendapat undangan menghadiri sosialisasi untuk rencana pembuatan sekat kanal dari pihak BRG setelah sekat kanal dibangun di wilayah mereka.

Dirinya juga menyebutkan, adanya sosialisasi terkait pembuatan sekat kanal itu baru pada hari Rabu tanggal 20 Desember yang lalu. Padahal, tambahnya, seminggu sebelumnya pengurus handel ramai memprotes sekat kanal sudah terbangun.

"Kita sama sekali tidak mengetahui adanya pembuatan tabat di handel kami  itu. Sosialisasi yang bertempat di kantor kecamatan kemarin bahkan disebutkan, jika rencana kunjungan untuk survei pembuatan sekat kanal di Handel Baru itu justru sekitar tanggal 15 Januari tahun 2018 depan. Tapi kenapa tabat kanal di handel kami sudah dibuat. Lalu untuk apa lagi yang disurvei nantinya kalau sudah dibuat tabat tersebut," ungkapnya kepada KabarKalteng, Selasa (26/12/2017) di rumah ketua Handel Baru.

Selanjutnya, dikatakan Muhammad As'ad, bahkan rapat yang baru saja digelar di kantor Kecamatan Kahayan Hilir itu juga langsung dihadiri oleh camat setempat.

"Rapat di Kecamatan Kahlir juga disaksikan oleh camat setempat bahwa untuk pembuatan tabat di Handel Baru baru akan disosialisasikan tahun 2018 mendatang," tambahnya.


Sementara itu di tempat yang sama, di katakan Anton Supardi salah satu pemilik lahan di Handel Baru Desa Mantaren I, dirinya belum mendapat sosialisasi terkait rencana program pembuatan sekat Kanal di wilayah mereka. Hingga tiba-tiba sekat kanal sudah terbangun di Handel Baru. Dirinya pun khawatir dengan adanya tabat pada kanal tersebut akan merendam kebun warga pada musim penghujan seperti ini.

"Jadi pertanyaan kami juga, pembuatan tabat kanal tersebut kok bahan timbunannya tidak merata. Misalnya, di sekat pertama itu sepertinya berisi timbunan pasir yang di karungin. Sementara puluhan sekat lainnya di dalamnya justru berbahan dasar tanah. Dan untuk tanahnya pun diambil dari tanah di lahan warga sekitar," terang Anton Supardi.

Ditegaskan Anton Supardi, kalau dengan cara seperti ini pihaknya tentunya sangat tidak setuju.

"Kita pastikan tidak setuju kalau semacam ini caranya dan sebelumnya juga ada beberapa yang sempat nggak terima karena mengambil tanah dilahan warga setempat untuk  pembuatan sekat kanal itu tanpa izin. Namun info yang kami dapat tidak lama ada semacam rugi dengan bervariasi, dari 400 ribu sampai 1,5 juta rupiah untuk pembayan ganti rugi pengambilan tanah lahan yang milik warga tersebut," ungkap Anton.

Sementara itu pula diungkapkan Ketua Handel Baru, Purwanto yang juga sebagai pemilik lahan di handel tersebut, dirinya banyak menerima keluhan dari masyarakat yang mempunyai lahan perkebunan di Handel Baru atas pembangunan belasan tabat yang tanpa melalui sosialisasi terlebih dahulu. Dia juga menyayangkan pembangunan belasan tabat di Handil Baru itu tidak melalui koordinasi dengan pengurus Handil Baru.

Kalau pembuatan belasan tabat untuk dalam rangka mengairi lahan perkebunan, sangat tidak tepat. Karena di saat musim penghujan akan menggenangi tamanan mereka dan dampaknya sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya tanaman perkebunan mereka. Lebih tepat di daerah ini dibangun semacam embung.

"Saya kaget, kok tiba-tiba ada pembangunan belasan tabat di Handel Baru tanpa disosialisasikan terlebih dahulu, agar program pembangunan yang akan dilaksanakan bisa diterima dan manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat, " ujar Purwanto.

Dia juga menyampaikan, pada prinsipnya sangat mendukung program-program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Tetapi, alangkah baiknya sebelum program pembangunan dilaksanakan bisa di sosialisasikan terlebih dulu kepada masyarakat. Supaya program tersebut, tepat sasaran dan manfaatnya dapat langsung di rasakan oleh masyarakat. 

Menurutnya, pada tahun 2004 masyarakat di sini mengusulkan pembuatan galian atau saluran air, dengan harapan untuk membuang air ke kali Malang III. Jadi kalau dibangun tabat saya kira kurang tepat, lebih tepatnya di daerah ini di bangun embung. 

"Harusnya bukan tabat yang di bangun di sini, tetapi embung. Karena daerah ini merupakan lahan perkebunan yang hanya memerlukan sedikit air, " terangnya

Sementara itu, sampai berita ini diterbitkan Kepala Desa Mantaren I, Surya Dharma saat dihubungi wartawan KabarKalteng, Selasa (26/12/2017) via sms dan telpon untuk dimintai tanggapannya terkait pembuatan sekat kanal yang dikeluhkan Ketua dan pengurus handel serta masyarakat setempat, belum dijawab.[manan]



TAG