• Latest News

    Rabu, 01 November 2017

    Bukung harus Ada di Upacara Tiwah, Untuk Apa?


    KASONGAN - Setiap pelaksanaan upacara tiwah, khususnya di Kabupaten Katingan, masyarakat pasti tidak asing dengan nama sebutan bukung.

    Bukung biasanya menggunakan topeng dari ukiran kayu dibuat dengan sedemikian rupa hingga menyerupai wajah yang cukup unik namun menyeramkan. Bukung ini juga menggunakan berbagai macam properti untuk menutupi tubuhnya.

    Ukiran kepala bukung ini dibuat dengan bentuk besar detail dari kuping hingga lidah yang panjang.

    Seperti yang terlihat pada pelaksanaan upacara tiwah Desa Tumbang Liting, Kecamatan Katingan Hilir beberapa waktu lalu. Tampak bukung bolak balik di tempat pelaksanaan tiwah.

    Namun apakah kita mengetahui mengapa itu bukung harus ada di pelaksanaan upacara tiwah? dan apa kegunaan bukung dalam spritual?

    Dirul Pisur (pemandu acara tiwah) utama yang berasal dari Desa Tumbang Pangu menjelaskan, bukung harus ada di pelaksanaan upacara tiwah, Kamis (2/11/2017).

    "Bukung harus ada pada pelaksaan upacara tiwah, karena itu adalah salah satu syarat yang harus ada," ungkapnya.


    Kemudian untuk bukung itu sendiri, dirinya menyampaikan bahwa bukung menjadi pembantu orang yang sudah meninggal dan akan ditiwahkan. "Bukung itu secara spiritual menurut kepercayaan pendahulu bahwa mereka akan menjadi jipen (budak/pembantu) para liau (roh-roh arwah sudah meninggal) yang ikut ditiwahkan," jelasnya.

    Ia menambahkan, bukung akan menjadi jipen hanya selama pelaksanaan tiwah, setelah selesainya pelaksaan tiwah maka selesai pula tugas bukung tersebut. Selanjutnya, baju dan topeng yang dipakai oleh bukung akan disimpin di pambak tempat orang menyimpan tulang-tulang arwah yang ditiwahkan.[triokta]


    • Komentar
    • Facebook Komentar

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Bukung harus Ada di Upacara Tiwah, Untuk Apa? Rating: 5 Reviewed By: Kabar Kalteng
    Scroll to Top